“Sampah … Sampah. Sampahnya, Bu…” Ya, kalimat dan suara itu bukan lagi sesuatu yang asing bagi warga Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terutama bagi para ibu rumah tangga di desa itu.
Ternyata suara khas itu suara Dedih Suhendi, seorang petugas kebersihan yang telah bekerja selama belasan tahun secara sukarela.
Ditemani dengan gerobak kayu seadanya, pria berusia 55 tahun itu setiap pagi berkeliling lingkungan warga untuk mengambil sampah rumah tangga di lingkungan itu.
Bermodal gerobak kayu, yang dibuat dengan biaya sendiri itu, Dedih setiap pagi mengangkut sampah milik warga untuk selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara yang ada di lingkungan itu.
Meskipun telah belasan tahun menjalankan kesehariannya itu, ia tetap menjalankannya dengan rasa tanggung jawab dan ikhlas.
Di usianya yang sudah tak muda lagi, dengan telaten dia menyusuri setiap gang di Desa Pamuwuran, demi kebersihan lingkungannya sembari mencari setetes rezki dari setiap warga yang menitipkan sampah untuk dibuang oleh dirinya.
“Seminggu Tiga kali, ini saya lakukan atas dasar inisiatif sendiri pak tanpa ada suruhan dari pemerintah,” ucap Dedih, dengan keringat dikeningnya.
Dia mengaku, selama belasan tahun melakukan pekerjaan tersebut, hanya mengandalkan pemberian dari warga, tanpa menerima upah dari pemerintah atau bantuan berupa roda sampah dan sebagainya.
“Belum pernah menerima bantuan. Inikan inisiatif sendiri. Jadi saya tidak terlalu berharap. Buat saya, upah yang diberi dari warga sudah cukup,” ujar dia menutupi keluhnya.
“… Ini kan inisiatif sendiri. Jadi saya tidak terlalu berharap. Buat saya, upah yang diberi dari warga sudah cukup …
Gerobak sampah yang dibawa Dedih terlihat lapuk dan sedikit reyot. Besar keinginan dia untuk memperbaiki rodanya itu. Namun, upah atau iuran dari warga sementara ini belum bisa menutupi keinginannya tersebut.
Dia mengaku, jangankan untuk memperbaiki roda sampahnya itu, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih harus melakukan pekerjaan lain. “Ingin sekali memperbaiki roda, supaya enak pas didorong. Tapi saat ini saya belum mampu. Mudah-mudahan kedepannya,” harap dia.
Meski gerobaknya sudah tampak lapuk dimakan usia, semangat Dedih tak berkurang sedikitpun. Didasari rasa ikhlas dan niat membantu warga, juga demi kebersihan lingkungan, dia selalu terlihat bersemangat di setiap langkahnya.
Keberadaan Dedih, sangat membantu warga yang membutuhkan jasanya. Mengingat jarak dari rumah warga ke tempat penampungan sampah sangatlah jauh. Sekitar tiga kilometer.
“Keberadaan Pak Dedih sebagai petugas kebersihan ini sangat membantu sekali. Kita kan orang kerja, kadang gak keburu, mungkin malas juga untuk membuang sampah ke tempat yang jauh. Beruntung ada pak Dedih,” kata Rahmat Dani (40) salah seorang warga sekitar.***
Penulis: Purwanda