PT Danon Indonesia menyalurkan 12,5 ton beras untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan santri dan pengurus 60 pondok pesantren yang tersebar di Kabupaten Garut.
DARA | Bantuan beras yang dibagi dalam lima ribu paket tersebut diberikan di Sekretariat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Jalan Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (1/4/2024).
Direktur Sustainable Development PT Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, mengatakan kegiatan donasi tersebut dilakukan sebagai bentuk tali kasih Danone Indonesia bagi para santri, pengasuh pondok pesantren dan masyarakat pada momentum Ramadhan 1445 Hijriyah.
Menurut Karyanto, beras yang disalurkan berasal dari petani dampingan program pertanian sehat yang dilakukan Danone Indonesia di Kabupaten Cianjur.
“Kami berharap beras ini dapat diterima dengan baik oleh para santri dan pengasuh pesantren serta masyarakat di sekitar menjadi berkah bagi kita semua,” ujarnya di Sekretariat FKDT, Jalan Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (1/4/2024).
Sementara itu, Ketua FKDT Kabupaten Garut, Kiai Iim Komarudin, menyampaikan terima kasih atas kepedulian PT Danone Indonesia yang telah mempercayakan penyaluran beras kepada pondok pesantren di Kabupaten Garut melalui FKDT.
“Semoga donasi yang disalurkan dapat memberi manfaat bagi para santri dan masyarakat,” ucapnya.
Iim menyebutkan, ke depan kerja sama dengan Danone Indonesia itu tidak hanya memberikan bantuan beras bagi pondok pesantren, tapi bisa terus berlanjut sejalan dengan visi FKDT dalam memajukan pondok pesantren dan meningkatkan keahlian para santri.
Ia menuturkan, bahwa program tersebut merupakan bentuk kepeduliaan untuk membangun pondok pesantren di Garut, khususnya ke depan bisa membantu peningkatan perekonomian bagi kalangan pesantren.
“Program peningkatan perekonomian ingin membangun pesantren, khususnya ke santri,” katanya.
Di tempat yang sama,Ketua Umum Serikat Ekonomi Pesantren, Ahmad Tazakka Bonanza mengatakan, bantuan beras itu dalam rangka meningkatkan kualitas pondok pesantren dan kesejahteraan santri.
Ahmad juga berharap, ke depan pondok pesantren tidak hanya mendapatkan bantuan beras, melainkan ada program lain yang bisa mendorong santri maupun pengurus pesantren untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi.
“Bagaimana pesantren menumbuhkembangkan ekonomi keumatan, dari tahun ke tahun itu tumbuh seperti pertanian, peternakan sesuai potensi daerah pesantren,” ucapnya.
Ahmad menambahkan, bahwa saat ini sudah mulai merambah secara bertahap untuk membuat sekolah bisnis pesantren yang akhirnya nanti hasil dari bisnis itu bisa memberikan kesejahteraan hidup lebih baik.
Ia berharap, program pemberdayaan pesantren tidak hanya di Garut, melainkan juga dilakukan di daerah lainnya, khususnya wilayah Jawa Barat sebagai munculnya organisasi Serikat Ekonomi Pesantren.
“Harapannya semoga pesantren di Jawa Barat terkhusus yang tercatat dua ribuan pesantren tumbuh kembang, ekonomi semakin pesat,” katanya.***
Editor: denkur