DARA | BANDUNG – Sebanyak 7.711 anak, dari tingkat TK hingga SMP, di Kota Bandung mencatatkan rekor bermain permainan tradisional pada Festival Bandung Ulin, di Stadion Sidolig, Jalan Ahmad Yani, Bandung, kemarin. Rekor ini memperoleh penghargaan dari Original Rekor Indonesia (ORI).
Penghargaan diberikan kepada Pemkot Bandung atas prestasi Penyelenggara Utama Permainan Tradisional Cingciripit, Surser, dan Perepet Jengkol dengan peserta terbanyak di Indonesia. Pada acara tersebut, juga Wali Kota Bandung, mendapat penghargaan atas prestasi sebagai Pendukung Utama Permainan Tradisional itu dengan peserta terbanyak di Indonesia.
Plh Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, mengungkapkan, acara ini dapat mengenalkan kembali anak-anak era kini kepada permainan zaman dalu yang memiliki nilai filosofis kebersamaan, tenggang rasa, dan solidaritas. “Permainan ini juga memiliki nilai olahraga. Sehingga. bisa mereduksi kedekatan berlebih anak dengan ponselnya.”
Ia berharap, permainan tradisonal ini tidak hilang ditelan zaman, karena dengan permainan tradisional anak-anak akan merasa bahagia tanpa meninggalkan sisi sosialisasinya. “Kalau anak-anak sekarang dengan permainan di gawainya. Mereka bahagia iya, senang iya. Tapi nilai sosialisasinya hilang. Nah, ini yang harus kita hindari.”
Mengenai arus teknologi informasi yang menerpa anak-anak era kini, menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, Hikmat Ginanjar, sudah menjadi peran masyarakat dewasa. Masyarakat dewasa yang ia maksud adalah orang tua, guru, serta Disdik Kota Bandung dari pihak pemerintah untuk memberikan rambu-rambu agar hadirnya teknologi informasi di dunia anak dapat menghasilkan lebih banyak manfaat.
“Misalnya dengan mengedukasi siswa akan permainan tradisional. Kalau kita lihat, permainan tradisional dalam acara ini mengandung banyak filosofis yang mengajarkan peserta didik cara bersosialisasi,” ujar Hikmat.
Ia juga menyebutkan, saat ini Pemkot Bandung melalui Disdik memiliki Kurikulum Masagi. Di dalamnya memberikan stimulan mengenai pendidikan karakter, peduli lingkungan, religius, dan budaya lokal.***
Editor: Ayi Kusmawan