“Kita memang belum bertemu lagi dengan PKB, padahal yang menentukan Usman Sayogi itu bukan saya, tapi permintaan dari dua partai itu (Gerindra dan PKB) untuk minta dinolkan dan dari birokrasi,” kata Dadang M. Naser.
DARA | BANDUNG – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebelumnya telah membangun koalisi dengan Partai Golkar dan Partai Gerindra untuk Pilkada Kabupaten Bandung 9 Desember 2020 mendatang. Namun, setelah ditetapkannya Usman Sayogi sebagai calon wakil bupati untuk mendampingi Kurnia Agustina Naser, kabar pecah koalisi pun mulai merebak karena PKB dikabarkan mundur dari koalisi tersebut dan membentuk koalisi baru bersama Partai Nasdem dan Demokrat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung, Dadang M. Naser mengatakan hal tersebut masih dinamis, karena memang beberapa waktu lalu ada kesalahpahaman saja ketika diumumkan hasil rekomendasi dari DPP Golkar.
“Kita memang belum bertemu lagi dengan PKB, padahal yang menentukan Usman Sayogi itu bukan saya, tapi permintaan dari dua partai itu (Gerindra dan PKB) untuk minta dinolkan dan dari birokrasi, kemudian dan disuruh memilih. Namun pada waktu penetapannya ada miskomunikasi, kalau kami kan cepat, jadi ketika bu Nia direkomendasi ya kami sodorkan untuk wakilnya dari pilihan PKB dan Gerindra,” ujar Dadang di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/7/2020).
Terkait kabar kader Golkar yang sebelumnya menjadi kandidat calon bupati dari Partai Golkar, Dadang Supriatna yang diusung oleh koalisi partai lain, Dadang Naser menyerahkan sepenuhnya pada yang bersangkutan.
“Kalau itu haknya, silakan saja. Tapi kalau sesuai AD/ART Golkar, berarti dia (DS) harus keluar,” tegas Dadang.***
Editor: Muhammad Zein