DARA | BANDUNG — Perkembangan seni dan budaya di Kabupat Bandung masih terkendala oleh ketidaktersedian anggaran yang belum mencukupi sebagai sarana peningkatannya. Dampaknya, ikon-ikon sien dan budaya sebagai warisanleluhur, akan tertutup.
“Keberadaan seni dan budaya di wilayah Kabupaten Bandung itu sangat banyak. Tapi tidak terkoordinasi dengan baik. Salah satu kendala perkembangannya adalah ketidaktersediannya anggaran sebagai sarana peningkatannya,” kata Wakil Pembina II Paguyuban Kuda Silat Kabupaten Bandun (Pakusiban), Dr. Atang Irawan, dalam gelar seni kuda silat yang digagas Pakusiban, di Stadion si Jalak Harupat Kabupaten Bandun, Sabtu (27/1/2018).
Seni dan Abudaya, menurut Atang, harus dikelola oleh orang yang mengerti makna dan psikologis wilayah terlebih dahulu. “Sebab masing-masing daerah mempunyai karakteristik tersendiri.”
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Agus Firman Zaeni, kgiatan tersebut sebaiknya pertengahan bulan Juni nanti. Alasannya, pada bulan itu akan tersedia anggaran untuk setiap kegiatan seni dan budaya.
Agus mengakui, Pakusiban bisa menjadi ikon unggulan di antara seni budaya lainnya. “Keunikan kuda silat memang sangat berbeda dengan kuda-kuda lainnya. Dan itu memerlukan perlakuan khusus.”
Ia bangga Pakusiban bisa mandiri melaksanakan kegiatan ini dengan cara gotong-royong. “Ini adalah bukti bahwa rasa kebersamaan diantara pelaku masih kuat.”
Pembina Pakusiban, Nanang Witarsa, pada kesempatan yang sama menjelaskan, persiapan untuk kegiatan ini hanya sebulan. “Biayanya didapat dari hasil patungan.”
Ia menggarisbawahi, pelaksanaan kegiatan budaya bukan terletak dari besar kecilnya anggaran karena orientasinya adalah kepuasan jiwa. “Bagaimana bisa mengupayakan kegiatan ini secara optimal,” ujarnya, seraya menambahkan, keinginan orang seni itu kuat dan mengakar. Saat ingin melaksanakan kegiatan maka mereka akan fokus berkonsentrasi untuk merealisasikannya.
“Bila kemudian Kadisparbud menginginkan kegiatan Pakusiban dilaksanakan setahun sekali, tapi kalau mengharuskan kegiatan ini dilaksanakan kembali, maka tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi kami,” katanya.
Pakusiban akan terus berkembang dan bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekarang. Anang pun mengakui, potensi wisata di Kabupaten Bandung itu sangat banyak.
“Tapi belum tergali secara maksimal. Hambatan dari permasalahan itu adalah tidak adanya anggaran. Jadi hingga saat ini masih terhambat laju perkembangannya, katanya.***