Angka Pengangguran Lulusan SMK Tinggi, Dede Yusuf Dorong Kemendikbud Kejar Ketertinggalan 

Jumat, 6 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi X DPR RI, Dede Yusuf didampingi Danlanud Sulaiman, Kolonel Pnb M. Nurdin (kedua kanan) dan Ketua Yasarini Cabang Lanud Sulaiman, Erin Juliani saat meninjau dan menyerap aspirasi di SMK Angkasa 1 Margahayu, Kabupaten Bandung, Jumat (6/3/2020). (Foto: Muhammad Zein/dara.co.id)

Anggota Komisi X DPR RI, Dede Yusuf didampingi Danlanud Sulaiman, Kolonel Pnb M. Nurdin (kedua kanan) dan Ketua Yasarini Cabang Lanud Sulaiman, Erin Juliani saat meninjau dan menyerap aspirasi di SMK Angkasa 1 Margahayu, Kabupaten Bandung, Jumat (6/3/2020). (Foto: Muhammad Zein/dara.co.id)

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyoroti tingginya angka pengangguran dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang melebihi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).


DARA | BANDUNG –  Hal tersebut berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, sehingga menyebabkan banyak siswa-siswa lulusan SMK tidak bisa terserap dunia pekerjaan.

Menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf M. Effendi, ada beberapa hal yang menyebabkan angka pengangguran dari lulusan SMK ini meningkat. Seperti investasi yang lebih besar dari SMA, karena SMK harus ditunjang peralatan-peralatan.

“Apalagi yang jurusan teknik membutuhkan peralatan yang rata-rata harus di update per tiga tahun. Biasanya SMK juga belum tentu mendapat pendapatan yang cukup signifikan dari para siswa, karena kalah besaing dengan beberapa sekolah negeri,” ujar Dede Yusuf di sela kunjungan kerja ke SMK Angkasa 1 Margahayu, Komplek Lanud Sulaiman, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020).

Namun dalam realitanya, kata Dede, pendidikan vokasi menjadi target Presiden Jokowi, yang disebut sumber daya manusia (SDM) unggul. Artinya yang memiliki skill dan keterampilan, serta mampu terserap di dunia pekerjaan.

“Dan SMK memiliki potensi untuk itu, karena mereka yang dididik di sini (SMK) adalah vocational training (bimbingan dan pelatihan) dalam waktu tiga tahun, bahkan ada juga yang sampai empat tahun,” katanya.

Namun tentunya, mereka harus memiliki link and match dengan dunia industri. “Makanya di SMK Angkasa 1 Margahayu ini para siswanya diberikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ucapnya.

Dalam kunjungannya, Dede bertemu dengan pihak Mitsubishi yang ternyata menyerap siswa-siswa dari SMK Angkasa 1 Margahayu, untuk bisa dijadikan bagian dari industri mereka. Hal inilah yang membuat Komisi X DPR RI mendorong Kemendikbud agar bisa menjadikan SMK kembali berjaya dan mengejar ketertinggalan.

“Karena bagaimana pun juga nanti kami harus bicara dengan Kemendikbud. Dengan sekian banyak anggaran dan program yang diturunkan, implementasinya di bawah (SMK). Benar tidak terimplementasi dengan baik. Benar tidak kebijakan tersebut akan menyentuh. Ini yang nanti jadi pertanyaan kami untuk Kemendikbud,” paparnya.

Sehingga nantinyan lanjut dia, Komisi X bisa menyampaikan pentingnya fasilitas seperti peralatan untuk SMK ini. Karena tidak mungkin menggunakan perlatan pada tahun ’90an, sedangkan saat ini sudah 2020.

“Makanya harus ada dukungan pemerintah dari sisi peralatan. Kalau tidak, lulusan dari sini (SMK) tidak akan serta merta memiliki kompetensi masuk dunia industri,” katanya.

Apalagi para siswa lulusan SMK nanti akan memiliki setifikat kelulusan. Namun, itu belum tentu dianggap oleh dunia industri karena harus ada sertifikat kompetensi. Setelah itu harus ada lagi untuk disamakan derajatnya dengan pekerja yang memiliki skill, yaitu sertifikat profesi.

“Tidak mungkin siswa harus membayar jutaan untuk mendapatkan sertifikat profesi. Disitulah peran negara untuk sertifikasi ini. Negara harus ikut mendukung sertifikasi kompetensi dan profesi. Dan saya sudah cek, tahun ini untuk sertifikasi kompetensi akan disiapkan dari Pemerintah Provinsi. Nanti saya akan kontrol lagi, benar tidak memfasilitasi itu,” jelasnya.***

Editor: denkur

 

Berita Terkait

Menghapus Jenuh Saat Mudik Lebaran, Daop 2 Bandung Sediakan Arena Bermain Anak
PT KAI Daop 2 Bandung Berangkatkan 17.893 Orang, Pucak Mudik Sudah Terlewati
Simak Nih, Pesan Bupati Bandung buat Warganya Yang Mudik Lebaran
Jangan Kirim Parsel ke Gubernur Jabar, Ini Alasannya
Sambut Idulfitri, Festival Dulag Istimewa Berlangsung di Gedung Pakuan
Raih Kemenangan Idul Fitri dengan Film-Film Terbaik dan Seru Hanya di RCTI!
BAZNAS Jabar Gelar Buka Bersama 150 Anak Yatim, Ramadan Jadi Lebih Istimewa
Dokumen Perizinan Eiger Camp Lengkap, KDB Hanya 2% dari Total Lahan yang Dikelola
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Maret 2025 - 21:54 WIB

Menghapus Jenuh Saat Mudik Lebaran, Daop 2 Bandung Sediakan Arena Bermain Anak

Minggu, 30 Maret 2025 - 21:33 WIB

PT KAI Daop 2 Bandung Berangkatkan 17.893 Orang, Pucak Mudik Sudah Terlewati

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:27 WIB

Simak Nih, Pesan Bupati Bandung buat Warganya Yang Mudik Lebaran

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:17 WIB

Jangan Kirim Parsel ke Gubernur Jabar, Ini Alasannya

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:11 WIB

Sambut Idulfitri, Festival Dulag Istimewa Berlangsung di Gedung Pakuan

Berita Terbaru

CATATAN

GEJOLAK KOREA SELATAN MK Tanpa ‘Dissenting Opinion’

Minggu, 6 Apr 2025 - 09:19 WIB