Logo
Featured Image
Para guru PAUD dari berbagai daerah di Garut, mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi Pendidik PAUD: Penanaman 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Melalui Dongeng dan Bernyanyi, di ballroom Hotel Harmoni Garut, Minggu (28/9/2025)(Foto: Istimewa)
Daerah

Guru PAUD Dituntut Memiliki Kemampuan Lebih Dalam Menyampaikan Materi Pembelajaran yang Menarik Bagi Anak

Jurnalis
Wartawan Denkur
Editor Tim Redaksi 29 September 2025

DARA- Direktorat Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal Direktorat Jenderal Guru, Direktorat Kependidkan dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menggelar kegaitan Peningkatan Kompetensi Pendidik PAUD:

Penanaman tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat melalui dongeng dan bernyanyi ini bertempat di Ballroom Hotel Harmoni, Jalan Cipanas Baru, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Minggu (28/9/2025).

Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan agar Guru Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD memiliki kemampuhan lebih dalam menyampaikan materi pembelajaran yang menarik bagi anak.

Menurutnya, guru PAUD perlu dibekali keterampilan khusus dalam menyampaikan nilai-nilai karakter kepada anak. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah melalui dongeng dan bernyanyi, yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga mampu membentuk karakter anak sejak dini.

"Kami mendorong pelatihan guru-guru PAUD agar mampu menanamkan karakter, misalnya melalui pendekatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menggunakan metode dongeng dan nyanyian,” ujar Ferdiansyah, di sela kegaitan Peningkatan Kompetensi Pendidik PAUD: Penanaman 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Melalui Dongeng dan Bernyanyi di Ballroom Hotel Harmoni, Jalan Cipanas Baru, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Minggu (28/9/2025).  

Menurut Ferdiansyah, bahwa penggunaan dongeng dan lagu harus dirancang sesuai dengan karakteristik anak. Ia menyebut, ada tiga catatan utama yang menjadi sorotan. Pertama, apakah benar dongeng dan bernyanyi merupakan alat utama dalam pembelajaran PAUD. Kedua, sejauh mana peran keduanya dalam membantu anak mencapai karakter yang diharapkan. Ketiga, bagaimana guru-guru bisa memilih jenis lagu dan dongeng yang tepat.

Ferdiansyah menuturkan, dalam pengamatan pihaknya ada dua hal penting dalam memilih lagu untuk anak-anak PAUD. Pertama, liriknya harus mudah diucapkan, kedua iramanya ceria dan menyenangkan. Hindari lagu yang bernuansa sedih atau bertema percintaan, karena itu tidak sesuai dengan dunia anak-anak. Selain lagu, ungkapnya, ilustrasi dalam mendongeng juga menjadi perhatian. Ia menyarankan agar penggunaan boneka sebagai alat bantu dongeng disesuaikan dengan konteks budaya lokal.

"Gunakan boneka binatang yang berasal dari Indonesia, agar sekaligus memperkenalkan keanekaragaman fauna nusantara. Ini bisa menjadi bagian dari cerita fabel yang mendidik," ucap politisi Partai Golkar tersebut.

Ferdiansyah juga mendorong agar lagu-lagu heroik yang mengandung unsur nasionalisme dan kebanggaan terhadap Indonesia turut diperkenalkan. Menurutnya, lagu-lagu bertema permainan atau olahraga seperti badminton juga dapat merangsang daya imajinasi dan semangat anak-anak.

Pihaknya, lanjut Ferdiansyah, berharap masukan-masukan tersebut bisa ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Bidang PAUD. Ia menilai, perlu ada rekomendasi resmi mengenai jenis lagu, dongeng, dan media bantu atau alat peraga seperti boneka yang efektif dalam pembelajaran PAUD.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenagaan, Pengembangan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Erom Suparman, menyampaikan program peningkatan kompetensi guru PAUD melalui dongeng dan bernyanyi sangat penting. Menurutnya, pendekatan ini dapat mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan minat anak untuk bersekolah.

"PAUD itu bukan soal belajar membaca dan menulis sejak dini, tapi bagaimana anak merasa senang dan tertarik untuk datang ke sekolah. Itulah sebabnya pembelajaran harus dibuat menyenangkan, salah satunya dengan dongeng dan lagu yang tepat," katanya.

Erom juga menyebutkan, bahwa program tersebut telah mulai diterapkan di beberapa daerah, salah satunya di Kabupaten Garut. Hasilnya, pendekatan ini dianggap berhasil dalam meningkatkan keterampilan guru dalam menyampaikan materi secara kreatif.

Menurutnya, dengan metode ini guru diajak menggunakan media yang menarik, seperti boneka, agar anak-anak lebih tertarik mendengarkan. Konsepnya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak, bukan menekankan pada pelajaran kognitif seperti membaca di usia dini.

"Semoga program ini dapat diperluas dan diperkuat lagi. Pelatihan guru secara berkelanjutan sebagai kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan PAUD secara nasional," ujar Erom.

Editor: denkur

Opini Pembaca