| Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, menemui tiga keluarga yang selama ini tinggal di kawasan terpencil di atas Gunung Solok Pandan, Kampung Cijanten RW 10, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi kehidupan warga sekaligus mendengar berbagai kebutuhan yang selama ini mereka hadapi, khususnya terkait akses pendidikan, tempat tinggal, dan pemutakhiran data bantuan sosial.
Tiga keluarga yang tinggal di kawasan tersebut yakni keluarga Amin, Usep, dan Entis Sutisna. Secara keseluruhan terdapat 16 orang yang terdiri dari tiga kepala keluarga dan tinggal di tiga rumah.
Ketiga keluarga tersebut telah menetap di lokasi itu sejak 2010. Mereka tinggal di atas tanah warisan milik sendiri dengan mata pencaharian yang sebagian besar berkaitan dengan aktivitas bertani dan berkebun di sekitar tempat tinggal mereka.
Namun, kondisi akses menuju permukiman menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi warga. Dari jalan raya, warga masih harus berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer melalui jalan setapak yang terjal dan licin. Di sejumlah titik, akses tersebut bahkan berada dekat dengan jurang.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan aktivitas warga sehari-hari, tetapi juga menjadi tantangan bagi anak-anak yang harus melewati jalur tersebut setiap hari untuk bersekolah.
Setelah melihat langsung kondisi warga dan mendengar kebutuhan mereka, Bupati Bandung Barat memberikan sejumlah solusi yang dinilai dapat segera dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.
Untuk satu keluarga yang memiliki anak sekolah, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat akan membantu biaya sewa rumah di lokasi yang lebih dekat dengan sekolah anak.
Solusi tersebut diberikan agar anak-anak tidak lagi harus menempuh akses yang sulit setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Di sisi lain, orang tua tetap dapat menjalankan aktivitas bertani dan berkebun di lokasi asal.
“Setelah saya lihat langsung kondisi di sini, terutama anak-anak yang setiap hari harus turun naik untuk sekolah, saya menawarkan untuk sementara tinggal di bawah. Kebunnya tetap bisa dikerjakan, orang tua tetap bisa naik ke sini untuk bertani, tetapi anak-anak bisa tinggal lebih dekat dengan sekolah,” ujar Bupati, Selasa (29/9/2026).
Bupati menegaskan, bantuan sewa rumah tersebut merupakan solusi yang dapat dilakukan segera dengan tujuan utama memastikan anak-anak dapat bersekolah dengan lebih aman dan lebih dekat.
Dalam materi kunjungan tersebut, Bupati menawarkan bantuan biaya kontrak rumah selama dua tahun bagi keluarga yang membutuhkan solusi tempat tinggal lebih dekat dengan sekolah anak.
Sementara itu, untuk dua keluarga lainnya yang memilih tetap tinggal di lokasi karena mata pencahariannya berada di sekitar kebun, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat akan segera melihat kondisi serta kebutuhan rumah masing-masing untuk kemudian mengusulkan bantuan perbaikan rumah tinggal.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari solusi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.
Sebelumnya, pihak desa juga pernah mengajak warga untuk pindah dari lokasi tersebut. Namun, mereka memilih tetap tinggal karena aktivitas bertani dan berkebun di sekitar tempat tinggal menjadi sumber penghidupan keluarga.
“Kalau memang memilih tetap tinggal di sini karena sumber penghidupannya ada di sini, kita cari solusi agar mereka tetap bisa tinggal dengan kondisi yang lebih layak. Kita lihat apa yang perlu diperbaiki dari rumahnya dan kita usulkan bantuannya,” kata Bupati.
Selain persoalan tempat tinggal dan akses pendidikan, Bupati juga meminta jajaran terkait memastikan persoalan administrasi serta pemutakhiran data sosial ketiga keluarga tersebut segera ditindaklanjuti.
Ketiga keluarga tersebut sebelumnya telah menerima sejumlah bentuk bantuan pemerintah. Namun, mereka belum masuk dalam bantuan sosial reguler seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) karena persoalan pemutakhiran data atau desil Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Bupati meminta proses pemutakhiran tersebut dikawal hingga terdapat kejelasan. Menurutnya, penanganan warga tidak boleh berhenti hanya pada proses pendataan, tetapi harus dilanjutkan dengan solusi yang benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Jadi kita jangan cuma perbaikan pendataan. Kita pastikan prosesnya berjalan sampai ada kejelasan,” tegasnya.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk merespons secara langsung persoalan yang dihadapi warga, terutama ketika menyangkut akses pendidikan, kelayakan tempat tinggal, serta keberlanjutan kehidupan keluarga di wilayah terpencil.
Dengan melihat langsung kondisi warga, pemerintah dapat menyesuaikan bentuk penanganan berdasarkan kebutuhan masing-masing keluarga, baik melalui bantuan tempat tinggal yang lebih dekat dengan sekolah, perbaikan rumah bagi warga yang memilih tetap tinggal, maupun penyelesaian persoalan administrasi dan pemutakhiran data bantuan sosial. ***
