Logo
Featured Image
Foto: Istimewa
Bandungraya

Lewat Pertengahan Tahun 2026 Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Capai 93 Kasus, Begini yang dilakukan DP2KBP3A Bandung Barat

Jurnalis
Wartawan Heni Suhaeni
Editor Denkur 23 Juli 2026

DARA | Kasus kelerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah Kabupaten Bandung Barat ((KBB) masih cukup tinggi. Hingga pertengahan Juli 2026 saja,  telah terjadi 93 kasus.

Angka tersebut, belum ditambah pengaduan yang disampaikan warga melalui layanan hotline.

Tahun 2025, kekerasan terhadap anak dan perempuan tersebut total 130-an kasus. Sebelumnya pada tahun 2021 terjadi 51 kasus , tahun 2022 naik menjadi 53 kasus dan tahun 2023 ada 58 kasus. 

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KBB, Panji Hermawan melalui Pelaksana Tugas Bidang PPA, Makhatir Muhammad menyebutkan, kasus kekerasan yang paling tinggi pertengahan tahun ini, menimpa anak-anak yakni terjadi 31 kasus.

Kemudian kasus menimpa perempuan sebanyak 9 kasus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 17 kasus dan traffcking 2 kasus.

"Kasus terbaru terjadi pelecehan terhadap anak yang dilakukan pacar ibunya di wilayah Kecamatan Padalarang," ungkap Atir, nama akrab Makhatir Muhammad di Ngamprah, Rabu (22/7/2026).

Pihaknya, melakukan pendampingan terhadap korban pasca mendapat pengaduan. Mulai dari advokasi terhadap keluarga, pendampingan untuk melakukan visum hingga asesment dengan psikolog.

Selain itu, upaya preventif dengan memberikan edukasi ke orang tua agar anak di bawah diberikan pengawasan khusus. Jika tidak diawasi, khawatir mengalami tindakan kekerasan, bahkan mungkin dipengaruhi menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Menyikapi layanan hotline, pihaknya belum melakukan aksi lantaran perlu didalami lagi tentang kasus yang diadukan. Butuh data secara akurat sehingga bisa menentukan langkah penanganannya.

Ia menyebutkan dari berbagai kasus yang terjadi sepanjang tahun 2026 seperti kasus pelecehan, perundungan dan kekerasan fisik.

Sedangkan para pelakunya antara lain dilakukan oleh orang yang terdekat dengan korban. 

Belakangan muncul kasus menimpa anak dengan aksi mengarah ke terorisme yang modus operasinya melalui game online. 

Tanpa menyebut kejadian di Bandung Barat, Atir hanya menyatakan jika aksi tersebut cukup berbahaya. Anak-anak didokrin, untuk melakukan hal-hal di luar batas kewajaran.

"Kita berharap orang tua harus waspada dengan memberikan perhatian penuh terhadap anak-anaknya, agar tidak mudah dipengaruhi isu-isu negatif," ujarnya.***
 

Opini Pembaca