Logo
Featured Image
Bank Sampah Amal Haqiqi menjadikan event basket hingga lari di Garut menjadi pionir event peduli lingkungan (Foto: Istimewa) 
Daerah

Pelopor Budaya Pilah Sampah! Event Basket hingga Lari di Garut Menjadi Pionir Event Peduli Lingkungan

Wartawan Agus Andre
Editor Denkur 22 Juli 2026

DARA | Di balik riuh tepuk tangan dan sengitnya pertandingan FPBL (Favorita Preanger Basketball League) 2026 di SOR RAA Adiwijaya, Garut, tersimpan kisah lain yang tak kalah menarik.

Selama sepuluh hari penyelenggaraan kompetisi, mulai 27 Juni hingga 6 Juli 2026, arena pertandingan bukan hanya menjadi tempat lahirnya talenta-talenta basket muda, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang bagaimana sebuah acara olahraga mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Bank Sampah Amal Haqiqi sebagai tim "waste management" membuktikan bahwa penyelenggaraan kompetisi olahraga kini mulai bergerak menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.

Alih-alih hanya menyediakan tempat sampah, tim menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi para atlet, orang tua, dan penonton. Sebanyak tujuh titik pemilahan sampah ditempatkan di berbagai sudut arena, lengkap dengan poster edukasi dan pendamping yang membantu pengunjung memilah sampah. Yang paling mencuri perhatian adalah konsep gamifikasi berupa tempat sampah berdesain ring basket.

Sampah organik, residu, maupun daur ulang dapat dilempar layaknya memasukkan bola ke ring, menjadikan aktivitas sederhana tersebut terasa menyenangkan sekaligus mengajarkan pentingnya memilah sampah sejak dini. Pendekatan kreatif ini berhasil menarik antusiasme anak-anak hingga orang dewasa yang datang menyaksikan pertandingan.

Di balik pengalaman interaktif itu, kerja besar berlangsung tanpa banyak sorotan. Setiap hari relawan Bank Sampah Amal Haqiqi berkeliling membersihkan seluruh area pertandingan, memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Ketika pertandingan usai dan penonton telah meninggalkan arena, pekerjaan mereka justru memasuki tahap yang paling panjang. Hingga malam hari, relawan melanjutkan proses pemilahan lanjutan agar setiap jenis sampah dapat dikelompokkan sesuai kategorinya sebelum ditimbang dan disalurkan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang terencana mampu memberikan dampak nyata. Selama sepuluh hari penyelenggaraan FPBL 2026, Bank Sampah Amal Haqiqi berhasil mengelola 576,45 kilogram sampah padat, yang terdiri atas 164,80 kilogram sampah organik, 198,55 kilogram sampah daur ulang, dan 213,10 kilogram sampah residu.

Selain itu, sebanyak 118,40 liter sisa air dan cairan juga berhasil dipisahkan agar tidak mencemari material daur ulang. Sampah bernilai ekonomi kemudian disalurkan kepada mitra pengepul untuk memasuki proses daur ulang sehingga memiliki nilai guna kembali.

Komitmen terhadap transparansi juga menjadi bagian dari pendekatan yang diterapkan selama kegiatan. Pengunjung dapat melihat papan informasi yang menampilkan rekapitulasi produksi sampah harian sehingga perkembangan pengelolaan sampah dapat dipantau secara terbuka.

Di sisi lain, upaya pengurangan sampah turut diterapkan bersama penyelenggara melalui penggunaan wadah konsumsi guna ulang bagi panitia. Langkah sederhana ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pemilahan, tetapi juga dimulai dari upaya mengurangi timbulan sampah sejak awal.

Seluruh proses tersebut berjalan berkat sistem kerja yang disiplin. Tim Bank Sampah Amal Haqiqi menerapkan daily checklist sebagai panduan operasional harian, mulai dari persiapan logistik, penataan titik pemilahan, kegiatan clean-up, edukasi kepada pengunjung, pendampingan pemilahan, hingga penimbangan hasil akhir.

Sistem ini memastikan setiap tahapan terlaksana secara konsisten selama sepuluh hari pelaksanaan kegiatan.

Pengalaman di FPBL 2026 memperlihatkan bahwa sebuah turnamen olahraga dapat menghadirkan dampak yang lebih luas daripada sekadar melahirkan juara. Arena pertandingan juga dapat menjadi ruang edukasi lingkungan yang efektif, tempat ribuan orang belajar bahwa membuang sampah dengan benar merupakan bagian dari sportivitas.

Ketika peluit panjang berbunyi dan lampu arena dipadamkan, warisan yang ditinggalkan bukan hanya hasil pertandingan, melainkan juga kesadaran baru bahwa setiap kemasan, botol, dan sisa makanan memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan menuju lingkungan yang lebih lestari.

Di tengah kesibukannya mengelola sampah event Basket, Bank Sampah Amal Haqiqi kembali mengemban kepercayaan sebagai Official Event Waste Management pada ajang lari yang diselenggarakan oleh Toserba Yogya Garut.

Jika di arena basket edukasi dilakukan melalui permainan memasukkan sampah ke dalam "ring basket", maka di beberapa titik lintasan lari sepanjang lima kilometer pendekatan serupa dihadirkan dengan cara yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama: mengajak masyarakat menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari setiap aktivitas publik.

Sepanjang rute lari, relawan Bank Sampah Amal Haqiqi menempatkan sejumlah titik pemilahan sampah sekaligus aktif mengampanyekan pentingnya membuang sampah sesuai jenisnya. Di area kegiatan, anak-anak diajak mengekspresikan kreativitas melalui aktivitas melukis di atas tempat sampah, menjadikan media yang identik dengan limbah sebagai sarana edukasi yang menyenangkan.

Sementara itu, di stan Bank Sampah Amal Haqiqi, peserta disuguhi berbagai permainan dan tantangan interaktif. Salah satu yang paling diminati adalah program penukaran 10 botol plastik bekas dengan satu tanaman kaktus. Tantangan sederhana ini berhasil menarik antusiasme para runners sekaligus mendorong mereka mengumpulkan sampah plastik yang tersebar di sekitar area acara.

Pendekatan partisipatif tersebut kembali menunjukkan hasil yang nyata. Selama penyelenggaraan kegiatan, Bank Sampah Amal Haqiqi berhasil mengelola 129,2 kilogram sampah, yang terdiri atas 16 kilogram sampah organik, 96 kilogram sampah anorganik, dan 17,2 kilogram sampah residu sehingga angka ini melengkapi capaian pengelolaan sampah pada turnamen FPBL.

Dari arena basket hingga lintasan lari, Bank Sampah Amal Haqiqi memperlihatkan bahwa setiap ruang publik dapat menjadi ruang belajar lingkungan. Ketika edukasi dikemas secara kreatif, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton atau peserta sebuah acara, melainkan ikut berperan sebagai bagian dari solusi.***

 

Dapatkan Update Berita Terkini!

Mari bergabung di Saluran WhatsApp kami untuk mendapatkan informasi terbaru dan terpercaya langsung di genggaman Anda.

Gabung Saluran WA

Opini Pembaca