| Kabupaten Bandung Barat (KBB) cukup kaya dengan keragaman seni dan budayanya.
Salah satunya, Upacara Serepan Patalekan dan Usik Sanyiru miik Paguron Panglipur Pamager Sari di Padepokan Pasir Ipis, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang.
Upacara Serepan tersebut, mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Tingkat Nasional.
Secara resmi Sertifikat WBTB diserahkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB yang diwakili Kepala Bidang Kebudayaan Taufik Kurnaefi
di Padepokan Pasir Ipis, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (8/8/2026).
Kasepuhan Paguron Panglipur Pamager Sari, Abah Asep mengatakan penetapan status WBTB Nasional ini bukan sekadar pengakuan administratif saja. Melainkan pengakuan atas nilai spiritual, etika, dan estetika tradisi Sunda yang terkandung di dalamnya..
"Sertifikat WBTB ini adalah amanah bagi kami untuk terus ngamumulé (memelihara) dan ngamekarkeun (mengembangkan) ajaran karuhun. Tradisi Sunda bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan tuntunan hidup masa kini agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya," ujarnya.
Abah Asep juga mengatakan, kehadiran jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat dan Provinsi Jawa Barat menegaskan sinergi kuat antara masyarakat adat, pelaku seni, dan pemerintah dalam melestarikan kekayaan takbenda bangsa.
Melalui penetapan ini, Paguron Panglipur Pamager Sari berkomitmen untuk menjadikan Padepokan Pasir Ipis sebagai pusat edukasi kebudayaan Sunda yang terbuka bagi masyarakat luas, peneliti, serta generasi muda yang ingin mempelajari nilai-nilai kearifan lokal secara mendalam.
Lebih lanjut, Abah Asep menjabarkan terkait makna yang terkandung dalam Serepan Patalekan dan Usik Sanyiru.
Menurutnya, Serepan Patalekan merupakan prosesi penyerapan nilai-nilai etika, moral, dan ajaran luhur (patalekan) karuhun Sunda. Tradisi ini menanamkan falsafah hidup silih asih, silih asah, silih asuh serta tritangtu (integritas ucapan, pikiran, dan tindakan) bagi para pancer dan murid paguron.
Sedangkan, Usik Sanyiru merupakan sebuah mahakarya gerak dan olah tubuh khas Pencak Silat Panglipur yang memanfaatkan sanyiru (nyiru/tampah bambu) sebagai pancer gerak.
Gerakan ini secara filosofis melambangkan pemilahan antara kebaikan dan keburukan (nyaring nu becik, membuang nu jahat), serta simbol ketahanan pangan dan keselarasan manusia Sunda dengan alam.***
