DARA|CIANJUR– Harga pupuk naik hingga 15 persen petani di Cianjur Jabar mengeluh. Keluhan petani ini diperparah oleh harga harga produk pertanian yang mereka hasilkan anjlok.
Kenaikan harga pupuk yang terjadi di centra pertanian Kabuapten Cianjur ini sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir ini. Ratusan petani palawija dan sayuran di kaki Gunung Gede Pangrango, tepatnya di Kampung Gunung Putri, Desa Sukataris, Kecamatan Pacet mengeluhkan harga jual sayur mayur yang tidak kunjung stabil bahkan menurun.
Dadang, petani setempat, mengatakan harga pupuk sudah mengalami kenaikan sekitar dua bulan yang lalu. Jenis pupuk yang mengalami kenaikan harga seperti Triple Super Phosphate(TSP), urea, Phonska, dan NPK.
“Rata-rata harga pupuk tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp 15 ribu per karung. Seperti harga pupuk urea asalnya Rp 90 ribu menjadi Rp 105 ribu per karung dengan berat 25 kilogram,” kata Dadang, kepada wartawan, Rabu (10/7/2019).
Tidak hanya pupuk bersubsidi, pupuk kandang pun mengalami kenaikan dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu per karung.
“Sejak terjadi kenaikan harga pupuk tersebut, pendapatan dari hasil panen mengalami penurunan. Sebelumnya dapat meraup untung Rp 1,5 juta saat ini hanya Rp 1 juta,” kata pria 27 tahun tersebut.
Petani lain, Neneng, mengatakan naiknya harga pupuk tidak seimbang dengan harga jual sayuran. Ia mencontohkan harga wortel dan bawang daun yang hingga saat ini belum stabil, bahkan terus menurun.
“Seperti harga jual bawang daun turun menjadi Rp 8 ribu dari Rp 11 ribu per kilogram. Wortel yang dijual ke tengkulak biasanya dihargai Rp 16 ribu turun menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Tetapi untuk harga jual brokoli masih normal Rp 16 ribu,” ungkap wanita berusia 63 tahun itu.
Neneng dan ratusan petani lainnya di wilayah tersebut berharap dinas terkait di Pemkab Cianjur dan pusat melakukan upaya agar harga pupuk kembali normal seperti semula.
Wartawan: Purwanda | editor: aldinar