Indonesia bisa menjadi negara adidaya jika bisa mengelola bonus demografi dengan baik.
DARA | Puncak bonus demografi Indonesia terjadi tahun 2030 dan menjadi peluang untuk meraih Indonesia emas pada tahun 2045.
Kol Tek Dr Ir Hikmat Zakky Almubarok dari Universitas Pertahanan (Unhan) menyebutkan negara yang mampu mengelola bonus demografi dengan baik antara lain Cina dan Belanda.
Cina saat ini tinggal menikmati hasil bonus demografi. Saat rakyatnya tengah berusia produktif, Cina memanfaatkannya dengan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Begitu juga dengan Indonesia, akan mencapai puncak keemasan pada tahun 2045 apabila bisa mengelola bonus demografinya.
“Pada tahun 2045 Indonesia akan berusia 100 tahun. Saat itulah menjadi Indonesia emas. Target jadi negara maju dengan negara adidaya tentunya perlu SDM (sumber daya manusia) yang kuat,” ujar Hikmat Zakky, saat menjadi nara sumber Seminar Dampak Globalisasi Terhadap Sistem Demokrasi Pancasila di Resto Sancang Parahyangan-Padalarang, Sabtu (1/6/2024).
Ia juga mengatakan, Indonesia akan hebat apabila pendidikan, kesehatan dan keamanannya kuat untuk menunjang puncak bonus demografi tersebut.
Sebaliknya, apabila bonus demografi ini tidak dikelola dengan baik, maka bonus demografi akan berubah jadi bencana.
“Yang paling harus dikelola dengan baik adalah karakter. Ibarat busur panah, biarkan seakan kita mundur belakang, maka yang harus diperbaiki adalah karakter. Dilepaskan busur panah, maka jauh lebih cepat daripada negara negara lain,” tuturnya.
Dr Editha Praditya Duarte S.Sos, MIS, MA, nara sumber lainnya dalam seminar yang diselenggarakan Wahana Jaringan Informasi Terpadu (Wajit) ini mengupas tentang ancaman cyber saat ini.
Menurutnya, ancaman cyber yang paling berbahaya adalah keamanan system informasi. Oleh karena itu, system’ informasi yang ada harus dikelola dengan baik.
Sementara itu, keamanan system informasi yang dimiliki saat ini infrastrukturnya masih lemah.
“Dan kita tidak bisa terus menerus didikte oleh kehadiran IT. Karena kita punya kemampuan anggaran negara juga, terbatas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan jika ancaman cyber terbesar dari sisi IT seperti hacker yang menyerang software.
“Lebih parah lagi apabila (hacker) masuk ke dalam data kependudukan,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Wajit, Haris Bunyamin mengatakan, seminar tersebut bisa terselenggara atas sinergitas antara pihaknya dengan Universitas Pertahanan di bawah Kementerian Pertahanan RI.
Gagasan untuk menggelar kegiatan yang menyangkut Bela Negara dan Ketahanan Nasional tersebut sebenarnya tercetus sudah lama. Sekaligus merupakan yang pertama kalinya Wajit menyelenggarakan kegiatan yang bersinergi dengan Unhan.
“Alhamdulillah Unhan dengan Wajit bisa alhamdulillah bisa bersinergi melakukan giat Ketahanan Nasional ini,” ujarnya.
Haris mengatakan kegiatan itupun bisa terselenggara dengan konsep kekeluargaan. Salah satu narsum Hikmat Zakky, menurutnya merupakan keluarga besar Wajit.
“Beliau ini punya gagasan bagaimana mentularkan gagasan tentang Bela Negara, Ketahanan Nasional, kepada generasi muda dan juga memberikan supporting sistem kepada para tokoh alim ulama dan ormas,” tuturnya.
Lebih jauh Haris mengatakan kegiatan itu merupakan upaya ketahanan nasional dalam mencegah arus globalisasi yang begitu masiv.
Terutama, kian menjamurnya media sosial yang bisa meracuni anak bangsa. Hal inilah yang menjadi persoalan tersendiri dan perlu disikapi dengan seksama.
Melalui gerakan Ketahanan Nasional dan Bela Negara diharapkan bisa mengantisipasi dampak dari arus globalisasi tersebut.
“Saya kira melalui giat Bela Negara dan Ketahanan Nasional, kita bisa mempersiapkan generasi muda yang tangguh dalam mewujudkan Indonesia emas,” ujarnya.***
Editor: denkur