DARA | CIANJUR – Sekolah yang belum siap menjalani Ujian Berbasis Komputer (UNBK), tidak harus melaksanakannya. Meski mengejar target pelaksanaannya sekolah yang bersangkutan tidak memaksakan.
Melihat tahun sebelumnya, menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Oting Zainal Mutaqin, banyak sekolah yang sebenarnya tidak mampu menggelar UNBK memaksakan menggelar ujian berbasis komputer. “Tapi sekarang, diimbau kalau memang tidak mampu sebaiknya tidak memaksakan,” katanya, Senin (25/3/2019).
Imbauan itu dsamoaikannya tidak setiap sekolah didukung fasilitas yang memadai. Seperti ketersediaan listrik, jangkauan server, hingga perangkat komputer yang dibutuhkan.
Oleh karena itu, Oting khawatirkan pihak sekolah akan terlalu memaksakan berpartisipasi meski tidak didukung kesiapan yang matang. Sebenarnya, banyak alternatif yang bisa ditempuh jika tetap ingin melaksanakan UNBK.
“Bisa kerjasama dengan SMA terdekat yang punya lab komputer. Jangan malah sewa tapi mahal. Tapi kalau masih tidak memungkinkan tidak usah. Ujian manual saja, tidak apa-apa,” ucapnya.
Mayoritas sekolah yang tidak melaksanakan UNBK berada di pelosok. Menurut dia, sekolah-sekolah tersebut bisa mengejar untuk ikut melaksanakan UNBK.
Tetapi, lanjut dia, dari segi pengadaan laptop atau komputer pun tidak mencukupi. Soalnya, dalam setahun hanya sekitar 15 persen pengadaan laptop untuk setiap sekolah.
Kini Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat tengah mempersiapkan penyediaan listrik dan server menjelang UNBK SMP April mendatang. Oting memastikan 279 SMP/sederajat mengikuti ujina berbasis komputer ini.
Sejumlah persiapan terus dilakukan, di antaranya berkoordinasi dengan PLN, untuk antisipasi potensi mati listrik. Mengenai server atau jaringan, Cianjur hingga saat ini terkendala kondisi geografis.
Oting menilai, kondisi alam lebih banyak mempengaruhi baik dan tidaknya server. Jumlah sekolah yang menyelenggarakan UNBK tahun ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.
“Dari total 310 sekolah, dipastikan 90 persennya mengikuti UNBK dua pekan lagi,” kata Oting yang juga sempat menjabat Sekda Kabupaten Cianjur itu.
Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cianjur, Jumati menuturkan, sejauh ini guru-guru sudah siap untuk mengawal para pelajar menjalani UNBK. “Guru juga kan memang dituntut untuk siap membimbing siswanya agar siap UNBK. Jadi memang sudah tidak kaku lagi.”
Dari segi teknologi para guru juga sudah siap dan relatif menguasai. Menurut dia, tidak ada kendala bagi guru untuk mengajarkan metode ujian tersebut.***
Wartawan: Purwanda
Editor: Ayi Kusmawan