DARA | CIREBON – Di Jawa Barat, masyarakat yang ingin mendapat kan pelatihan kerja, tidak perlu mendatangi tempat-tempat pelatihan. Tapi negara yang hadir di tengah masyarakat memberi pelatihan.
Melalui Smart Nakertrans Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat hadir di tengah masyarakat dengan program Mobile Training Unit (MTU). MTU adalah pelatihan kerja mandiri yang dilaksanakan di tempat tinggal masyarakat.
Di Jawa Barat, pelatihan melalui MTU fokus kepada sektor pertanian, pariwisata, dan kewiraswastaan. “Dengan MTU, masyarakat tidak perlu mendatangi tempat-tempat pelatihan, tapi negara yang hadir ditengah masyarakat memberi pelatihan,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, di Pondok Pesantren Al Ishlah 2 Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, tempo hari.
Ia menyebutkan, tren pengangguran di Jawa Barat turun sebesar 0,44 persen pada 2019 dari 8,17 persen pada Agustus 2018. “Meski begitu, jumlah pengangguran terbuka di Jawa Barat sekira 1,84 juta orang tergolong masih tinggi.”
MTU menjadi model penanganan dari Pemprov Jabar untuk mengurangi ketidaksesuaian antara kurikulum yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan kompetensi di dunia industri. Uu menilai, dengan memberikan pelatihan, baik dalam tataran hard skills maupun soft skills, pelatihan kerja ini untuk menambah kualitas dan daya saing para pesertanya.
“Sehingga nantinya dapat memiliki kesempatan kerja dan kesempatan berusaha,” ujarnya.
Setelah para pemuda mampu menjadi pekerja mandiri dan membentuk unit usaha baru, ia berharap mereka mampu mengembangkan usahanya untuk menyerap tenaga kerja. Sehingga, nanti tingkat pengangguran terbuka dapat menurun dan tingkat perekonomian warga desa menjadi meningkat.
Terkait MTU Angkatan VII di lingkungan pesantren, Uu juga berharap, program ini tepat sasaran, karena ke depan para santri tidak saja dibekali ilmu agama, melainkan juga skill lain termasuk kewirausahaan.
Kepala Disnakertrans Jawa Barat, M. Ade Afriandi, menyebutkan, pada MTU kali ini, pihaknya mendidik sejumlah santri yang belum mempunyai skill dan kesempatan kerja. “Peserta 30 orang, hasil rekrutmen dan arah minat peserta, 15 orang di bidang kuliner dan 15 santri di bidang las listrik dasar.”
Pihaknya juga menyediakan tenaga profesional sebagai pengajar. Lewat pendekatan partisipatif, pelatihan teknis dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Al Ishlah II, sementara pelatihan soft skills di Balai Latihan Kerja Mandiri Kantor Disnakertrans Jawa Barat di Kota Bandung.
“Pelatihan lima hari kalender, dibagi dua tahapan teknis empat hari, soft skills satu hari di Bandung,” katanya.***
Editor: Ayi Kusmawan