DARA | Deretan bambu satu meter dipasang menuju bukit atau ada pula yang menghadap hamparan sawah. Diujung pangkal diberi lubang sebagai penyulut. Saat bedil lodong itu diisi cairan karbit, lalu disulut api, maka keluarlah suara dentuman. Namun, tak jarang yang gagal, tak mengeluarkan suara, kecuali kepulan asap tipis.
Perang lodong itu biasanya terjadi selepas asar hingga bedug magrib. Anak-anak kampung nampak ceria menikmati permainan tradisional yang sudah ada sejak jaman kolonial itu. Lapar dan dahaga tak mereka rasakan, kecuali gelak tawa penuh kebahagiaan. Begitulah tradisi mengisi bulan Ramadan yang masih ada hingga sekarang, meski tak sebuming dulu.
Perang Lodong masih terlihat hampir di semua desa di Kabupaten Bandung. Umpamanya yang dilakukan anak-anak Kampung Kiaraeunyeuh Desa Banyusari Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung. Andik (12) anak warga Kiaraeunyeuh menyebutkan, sangat senang dengan permainan perang lodong itu. Menunggu waktu berbuka tak terasa, saking asyiknya menyulut lodong yang bersuara mendentum.
Selain Andik, anak-anak lain pun sama, mereka sangat gembira ketika berpuasa sambil bermain bedil lodong. Asep (15) menyebutkan, untuk bambu tidak mudah, tinggal motong di kebun bambu. Kiaraeunyeuh memang salah wilayah yang masih dirimbuni kebun bambu berbagai jenis. Namun, katanya khusus untuk lodong yang paling bagus adalah bambu jenis bambu gombong.
Anak-anak di Desa Banyusari ini sudah biasa mengisi Ramadhan dengan permainan bedil lodong. Dilakukan sambil menunggu azan Maghrib berkumandang. Jumlah bedil lodong terkang cukup banyak hingga mencapai 10 potong yang dimainkan oleh masing-masing anak.
Bedil lodong sebetulnya bisa juga berbahan pipa paralon bekas, kaleng susu bekas, magnet korek, dan spirtus. Namun, anak-anak Kiaraeunyeuh lebih senang menggunakan bambu karena mudah didapat. Namun, katanya saat ini memang agak kesulitan mencari karbit.***
Editor: denkur