Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan perempuan harus dapat memperluas cakrawalanya, berkarya dalam berbagai bidang untuk memberikan banyak manfaat bagi keluarga juga masyarakat luas. Pasalnya, peran perempuan bukan hanya sebatas ibu bagi anak-anaknya.
DARA – “Lebih dari itu, perempuan merupakan Ibu Bangsa, yang turut melahirkan, merawat dan mendidik bangsa melalui generasi yang dilahirkannya maupun peran-peran aktifnya dalam pergerakan nasional dan pembangunan. Atas pentingnya peran perempuan inilah, perempuan harus terdidik, berdaya dan setara kedudukannya,” ujar Menteri Bintang dalam Seminar dengan tema “Perjuangan Perempuan di Era Tatanan Kehidupan Baru” yang diselenggarakan ITENAS Bandung bekerja sama dengan PERGUBI DPD Jawa Barat dalam rangka Peringatan Hari Ibu Ke 93.
Menteri Bintang menuturkan memang peran ibu sebagai sentral dalam pendidikan dan pengasuhan anak apalagi hanya ibu yang dapat mengandung, melahirkan dan menyusui. Namun, ini bukan berarti tugas pendidikan dan pengasuhan anak menjadi tugas ibu semata.
“Keberadaan kesetaraan antara suami dan istri dalam rumah tangga sangatlah penting. Dengan hubungan yang saling mendukung tersebut, baik laki-laki maupun perempuan akan mampu mencapai potensi maksimalnya dan menjadi berdaya, memperkuat ketahanan keluarga, bangsa maupun negara. Tidak hanya itu, berbagai sumber juga menyatakan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang setara akan berdampak baik pada tumbuh kembang anak, baik secara fisik, akademis maupun sosial emosional. Yang terpenting, kesetaraan dalam pengasuhan juga dapat mengikis budaya patriarki pada generasi-generasi selanjutnya,” ungkap Menteri Bintang, seperti dikutip dari laman resmi KPPPA, Minggu (19/12/2021).
Dalam momentum dan semangat Hari Ibu, Menteri Bintang mengajak seluruh pihak yang hadir pada hari ini untuk meneruskan perjuangan mencapai kesetaraan demi mewujudkan bangsa yang besar.
“Mari satukan kekuatan, mulai dari pemerintah pusat hingga desa, akademisi dan professional, dunia usaha, media maupun masyarakat luas, agar perempuan-perempuan kita terdidik dan berdaya menuju Generasi Emas 2024,” ajaknya.
Untuk membantu keluarga dalam upaya pendidikan dan pengasuhan yang berbasis hak anak, Kemen PPPA telah memperkuat jaringan dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang tersebar hingga tingkat Kabupaten/Kota. PUSPAGA memiliki sarana konseling, konsultasi, dan pendampingan oleh profesional yaitu psikolog dan konselor bagi keluarga Indonesia secara gratis.
Selain itu, Kemen PPPA juga bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi juga mengembangkan Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Melalui program ini, diharapkan terbangun sistem di tingkat akar rumput yang mendukung inklusivitas dan kesetaraan dalam pembangunan.
Sementara itu, Rektor ITENAS Bandung, Meilinda Nurbanasari mengatakan berkaca sejarah Hari Ibu di Indonesia, peran ibu masa kini memang bukan sebatas sebagai ibu atau istri yang melayani suami, banyak perempuan yang menjalankan peran ganda untuk mengaktualisasi diri namun tetap menjalankan peran sebagai ibu.
“Esensi Peringatan Hari Ibu adalah untuk memberikan kesadaran bagi perempuan khususnya Ibu bahwa sosok mereka memiliki peran penting dan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan baik sebagai ibu, orangtua, pekerja, dan tentunya istri. Terlebih lagi, peran ibu di masa pandemi ini cenderung lebih menantang karena harus intensif mendampingi anak terutama bersekolah secara online di sisi lain mereka harus membagi waktu dengan tantangan dan adaptasi dengan keadaan pandemi. ITENAS bekerja sama dengan Pergubi DPD Jawa Barat memandang bahwa peringatan Hari Ibu memiliki makna yang penting sebagai momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai kembali perjuangan perempuan Indonesia. Adapun tema yang diambil pada kegiatan kali ini adalah perjuangan perempuan di era tatanan kehidupan baru yang tentu signifikan dengan kondisi perempuan saat ini,” ujar Meilinda Nurbanasari.
Lebih lanjut, Sekjen Persatuan Guru Besar Indonesia (PERGUBI) Jawa Barat, Poppy Yaniawati menyampaikan penyelenggaraan Seminar dengan tema “Perjuangan Perempuan di Era Tatanan Kehidupan Baru” pada hari ini menjadi sangatlah penting dimana peran perempuan sebagai pondasi pendidikan dalam keluarga sangat penting dan tidak bisa tergantikan.
“Seorang ibu yang menanamkan nilai-nilai luhur sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang sebagai pribadi sosial yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pada era tatanan baru ini, peran perempuan sangat dibutuhkan bahkan memiliki multitasking yakni peran sebagai ibu dan peran sebagai perempuan pekerja. Peran ini merupakan tantangan besar bagi perempuan apalagi selama masa pandemi Covid-19 terlebih dengan adanya kebijakan bekerja dan belajar dari rumah maupun adanya tantangan lain. Dengan demikian perempuan perlu cerdas dalam mengatur dan menyeimbangkan waktu agar dapat memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Dalam menghadapi era digital ini pun tentunya perempuan juga harus mempunyai keterampilan digital agar kita tidak tergerus oleh gelombang digital yang semakin hari kian dahsyat sehingga kita dapat menjadi sosok supermom yang selalu siap menghadapi segala tantangan di era tatanan kehidupan baru,” ujar Poppy.
Editor: denkur