DARA | LONDON – Dunia krisis air. Sejumlah pakar dari World Resources Institute (WRI) menyatakan, seperempat populasi dunia di 17 negara kini hidup di wilayah dengan persedian air yang tak sebanding dengan kebutuhan warganya. Kekurangan stok air itu berpotensi mengarah ke kondisi krisis air.
Tiga negara yang sedikit persediaan airnya adalah Qatar, Israel, dan Lebanon. Sedangkan untuk kota yang paling parah, yakni Badghis di Afghanistan, Gabornoe serta Jwaneng di Bostwana.
“Kini kita menghadapi krisis air secara global. Populasi dan ekonomi kita tumbuh dan meminta air lebih banyak. Tetapi persediaan air terancam oleh perubahan iklim, pemborosan air dan serta pertumbuhan populasi,” ujar Direktur Bidang Air WRI, Betsy Otto, seperti dilansir Republika dari The Guardian, Selasa (6/8/2019)
Betsy Otto juga mengatakan, berkurangnya pasokan air karena perubahan iklim, maka akan memberikan dampak mengerikan. Sebanyak 12 negara yang paling berisiko krisis air tersebut berada di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Negara lainnya yang juga berisiko adalah India yang berada dalam urutan ke 13. Keterbatasan persedian air di negara dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar itu sangat kentara.
Seperti pada Juli lalu, Kota Chennai yang berada di wilayah selatan India telah dilanda kekeringan. Sejumlah kamera satelit memperlihatkan bagaiman danau-danau di sana mengering.
“Krisis air yang terjadi di Chennai telah mengambil perhatian publik global, meski sejumlah area di India juga mengalami krisis air yang serupa,” ucap peneliti senior WRI, Shasi Shekhar.
Berdasarkan penelitian Bank Dunia, risiko kekurangan persediaan air sering kali tak disadari dan tak terlihat. Meksi demikian, dampaknya yang besar akan terasa secara perlahan-lahan.
Otto mengtakan, di negara manapun, kekurangan pasokan air dapat mengancam persedian makananan, memperburuk konflik dan meningkatkan gelombang migrasi. Selain itu, sektor industri yang sangat bergantung pada air seperti pertambangan dan manufaktur juga akan sangat terdampak.
“Kondisi ini mengkwatirkan di banyak tempat di seluruh dunia, tetapi penting dicatat keterbatasan stok air itu bukanlah sebuah takdir. Kita tidak boleh berpura-pura situasinya akan teratasi dengan sendirinya,” ujar Otto.***
Editor: denkur/ Sumber: Republika