Perubahan Iklim, Dunia Kini Krisis Air

Rabu, 7 Agustus 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: Blog ACT)

Ilustrasi (Foto: Blog ACT)

DARA | LONDON – Dunia krisis air. Sejumlah pakar dari World Resources Institute (WRI) menyatakan, seperempat populasi dunia di 17 negara kini hidup di wilayah dengan persedian air yang tak sebanding dengan kebutuhan warganya. Kekurangan stok air itu berpotensi mengarah ke kondisi krisis air.

Tiga negara yang sedikit persediaan airnya adalah Qatar, Israel, dan Lebanon. Sedangkan untuk kota yang paling parah, yakni Badghis di Afghanistan, Gabornoe serta Jwaneng di Bostwana.

“Kini kita menghadapi krisis air secara global. Populasi dan ekonomi kita tumbuh dan meminta air lebih banyak. Tetapi persediaan air terancam oleh perubahan iklim, pemborosan air dan serta pertumbuhan populasi,” ujar Direktur Bidang Air WRI, Betsy Otto, seperti dilansir Republika dari The Guardian, Selasa (6/8/2019)

Betsy Otto juga mengatakan, berkurangnya pasokan air karena perubahan iklim, maka akan memberikan dampak mengerikan. Sebanyak 12 negara yang paling berisiko krisis air tersebut berada di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Negara lainnya yang juga berisiko adalah India yang berada dalam urutan ke 13. Keterbatasan persedian air di negara dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar itu sangat kentara.

Seperti pada Juli lalu, Kota Chennai yang berada di wilayah selatan India telah dilanda kekeringan. Sejumlah kamera satelit memperlihatkan bagaiman danau-danau di sana mengering.

“Krisis air yang terjadi di Chennai telah mengambil perhatian publik global, meski sejumlah area di India juga mengalami krisis air yang serupa,” ucap peneliti senior WRI, Shasi Shekhar.

Berdasarkan penelitian Bank Dunia, risiko kekurangan persediaan air sering kali tak disadari dan tak terlihat. Meksi demikian, dampaknya yang besar akan terasa secara perlahan-lahan.

Otto mengtakan, di negara manapun, kekurangan pasokan air dapat mengancam persedian makananan, memperburuk konflik dan meningkatkan gelombang migrasi. Selain itu, sektor industri yang sangat bergantung pada air seperti pertambangan dan manufaktur juga akan sangat terdampak.

“Kondisi ini mengkwatirkan di banyak tempat di seluruh dunia, tetapi penting dicatat keterbatasan stok air itu bukanlah sebuah takdir. Kita tidak boleh berpura-pura situasinya akan teratasi dengan sendirinya,” ujar Otto.***

Editor: denkur/ Sumber: Republika

Berita Terkait

KRI Bung Tomo-357 Singgah di Sri Lanka Menuju Latihan Multinasional AMAN-25
Polri dan RCMP Perkuat Kerja Sama, Tingkatkan Kapasitas Lawan Kejahatan Transnasional
Menlu RI : Inovasi dan Digitalisasi Harus Jadi Penggerak Ekonomi Formal dan Global di Kawasan
Indonesia Kembali Ikuti Bursa Pariwisata di London Perkuat Capaian Kunjungan Wisman
Dua Bulan Terakhir Serangan Israel ke Libanon Menewaskan 85 Petugas Medis
Pilpres AS, Joe Biden Mundur, Dukungan Beralih Buat Kamala Harris, Donald Trump Berkoar Begini
Suhu Madinah Panas, Begini Kondisi Jemaah Haji Indonesia
Siang Tadi, Taiwan Diguncang Gempa Dasyat dan Inilah Dampaknya bagi Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 2 Februari 2025 - 15:47 WIB

KRI Bung Tomo-357 Singgah di Sri Lanka Menuju Latihan Multinasional AMAN-25

Rabu, 4 Desember 2024 - 14:35 WIB

Polri dan RCMP Perkuat Kerja Sama, Tingkatkan Kapasitas Lawan Kejahatan Transnasional

Jumat, 15 November 2024 - 15:35 WIB

Menlu RI : Inovasi dan Digitalisasi Harus Jadi Penggerak Ekonomi Formal dan Global di Kawasan

Jumat, 8 November 2024 - 21:38 WIB

Indonesia Kembali Ikuti Bursa Pariwisata di London Perkuat Capaian Kunjungan Wisman

Minggu, 3 November 2024 - 18:36 WIB

Dua Bulan Terakhir Serangan Israel ke Libanon Menewaskan 85 Petugas Medis

Berita Terbaru

CATATAN

GEJOLAK KOREA SELATAN MK Tanpa ‘Dissenting Opinion’

Minggu, 6 Apr 2025 - 09:19 WIB