Pembentukan FPK sangat penting mengingat Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat serta budayanya.
DARA| Kehadiran Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jawa Barat, Ceu Popong Otje Djundjunan untuk bersilaturahmi dengan para pengurus FPK Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendapat sambutan hangat, di Kantor Badan Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) KBB, Selasa (24/6/2024).
Terlebih pada saat Ceu Popong memberikan berbagai pembekalan, para pengurus FPK KBB cukup antusias mendengarnya.
Salah satu ungkapan yang digaris bawahi para pengurus FPK KBB, ketika Ceu Popong membeberkan tentang keberadaan organisasi FPK
Menurut tokoh wanita Sunda terkemuka ini, FPK berbeda dengan organisasi masyarakat (ormas) lainnya.
“FPK, organisasi yang dibentuk pemerintah. Sedangkan organisasi lainnya muncul dari masyarakat. Inilah bedanya FPK dengan organisasi lain, bukan insiatif masyarakat,” paparnya.
FPK tersebut tertuang dalam Permendagri Nomor 34 tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembauran Kebangsaan di Daerah.
Konsekwensinya, tindak lanjut dari Permendagri tersebut diterbitkan Surat Kepengurusan (SK) FPK secara berjenjang tingkat daerah seperti kepengurusan provinsi oleh gubernur sedangkan kota/kabupaten oleh walikota/ bupati.
Pembentukan FPK sangat penting mengingat Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat serta budayanya.
Maka untuk merekatkan perbedaan itu diikat dengan sebuah wadah yang mempersatukan semuanya.
“Jadi pemerintah sangat sudah sangat tepat membangun FPK,” tegasnya.
Sementara terkait kunjungannya ke FPK Bandung Barat, Ceu Popong mengatakan jika pihaknya tengah melaksanakan jadwal dari program FPK Provinsi Jabar.
“Target sebelum habis masa jabatan, semua program harus dilaksanakan,” terangnya.
Sekretaris FPK KBB, Ujang Suryaman mengatakan program yang tengah dihadapi FPK KBB adalah sosialisasi tentang pembauran kebangsaan di tingkat kecamatan.
“Sekaligus kita juga mempersiapkan kepengurusan tingkat kecamatan. Prioritas daerah-daerah yang penduduknya heterogen,” ungkapnya.
Editor: Maji