Sejenak Tentang Calung Mencenges Putra, Lahirnya Generasi ke Tiga

Jumat, 7 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grup Calung Mencenges Putra (Foto: Istimewa)

Grup Calung Mencenges Putra (Foto: Istimewa)

Meski dikepung perubahan zaman yang makin modern, namun seni calung tetap ada di kehidupan masyarakat Sunda. Grup Mencenges Putra adalah salah satu lingkung seni calung yang masih eksis hingga sekarang.


DARA | BANDUNG – Grup seni calung Mencenges Putra yang bermarkas di Jalan Cisirung RT01/12 Desa Cangkuang Kulon Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung  adalah grup seni tradisional sunda yang dibentuk tahun 1985 oleh Drs Abin Saepudin, sekaligus menjadi pemimpin grup seni tersebut. Grup calung ini sudah melahirkan tiga generasi.

Generasi pertama sebagian sudah usia lanjut dan ada juga yang sudah meninggal. Maka, terbentuklah generasi kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, generasi kedua tersebut sempat redup karena hilang semangat. Selanjutnya, bangkitlah generasi ketiga yang diprakarsai Septian Azis, pemuda berusia 19 tahun yang sangat peduli terhadap kelestarian seni calung.

Generasi ketiga kini sudah berjalan dua tahun. Septiana menginginkan calung lebih dikenal oleh berbagai suku, sehingga memotivasi para anak muda untuk melestarikan musik calung.

Calung terdiri dari berbagai waditra yaitu 3 calung panerus, 2 calung dalang, goong, kendang dan kecrek.

Grup Mencenges Putra ini sering manggung di beberapa tempat seperti Citeureup, Sukamukti, dan di daerah Cisirung. “Kalau di Sukamukti itu dua kali,” ujar Septian Azis.

Anggota yang berada di generasi ke tiga ada delapan orang yang semuanya anak muda dari kelas 2 SMP hingga  yang sudah bekerja. Pelatihnya adalah personil di generasi ke satu. Semua anggota belajar Calung dari nol sampai bisa, dan biasanya sebelum praktek teori dalu.

Biasanya berlatih seminggu dua kali di hari Jumat dan Sabtu jam 7 malam sampai jam 11.  “Alhamdulillah para orangtua tidak ada yang protes, bahkan mendukung,” ujar Septian Azis.

“Lestarikan budaya sunda ini, cintai budaya sunda ini, jangan kalah dengan budaya asing. Jika bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?,” ujar Septian Azis.***

Wartawan (Job): Adinda Rohimah-Dela Fatimah Azzahra | Editor: denkur

Berita Terkait

Menghapus Jenuh Saat Mudik Lebaran, Daop 2 Bandung Sediakan Arena Bermain Anak
PT KAI Daop 2 Bandung Berangkatkan 17.893 Orang, Pucak Mudik Sudah Terlewati
Simak Nih, Pesan Bupati Bandung buat Warganya Yang Mudik Lebaran
Jangan Kirim Parsel ke Gubernur Jabar, Ini Alasannya
Sambut Idulfitri, Festival Dulag Istimewa Berlangsung di Gedung Pakuan
Raih Kemenangan Idul Fitri dengan Film-Film Terbaik dan Seru Hanya di RCTI!
BAZNAS Jabar Gelar Buka Bersama 150 Anak Yatim, Ramadan Jadi Lebih Istimewa
Dokumen Perizinan Eiger Camp Lengkap, KDB Hanya 2% dari Total Lahan yang Dikelola
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Maret 2025 - 21:54 WIB

Menghapus Jenuh Saat Mudik Lebaran, Daop 2 Bandung Sediakan Arena Bermain Anak

Minggu, 30 Maret 2025 - 21:33 WIB

PT KAI Daop 2 Bandung Berangkatkan 17.893 Orang, Pucak Mudik Sudah Terlewati

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:27 WIB

Simak Nih, Pesan Bupati Bandung buat Warganya Yang Mudik Lebaran

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:17 WIB

Jangan Kirim Parsel ke Gubernur Jabar, Ini Alasannya

Minggu, 30 Maret 2025 - 20:11 WIB

Sambut Idulfitri, Festival Dulag Istimewa Berlangsung di Gedung Pakuan

Berita Terbaru

CATATAN

GEJOLAK KOREA SELATAN MK Tanpa ‘Dissenting Opinion’

Minggu, 6 Apr 2025 - 09:19 WIB