Kasus Covid-19 di Kabupaten Bandung terus meningkat. Semua rumah sakit dan balai karantina rujukan covid penuh.
DARA – Akibatnya warga yang terkonfirmasi positif covid banyak yang harus menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Namun, menjalani isolasi mandiri ternyata tidak mudah. Masyarakat harus memiliki persiapan dan materi yang cukup, setidaknya untuk makan sehari-hari.
Seorang warga Desa Kutawaringin yang saat ini sedang menjalani isolasi mandiri bersama empat anggota keluarganya akibat terpapar covid mengisahkan bahwa stigma negatif dari masyarakat di lingkungan sekitar rumahnya sangat terasa.
Selama menjalani isolasi mandiri, ia dan keluarganya tidak pernah mendapat perhatian dari lingkungan sekitarnya.
“Sebetulnya ini yang saya alami, kalau isolasi mandiri itu sebenarnya lebih baik, cuma terus terang saja, kita harus punya duit dan berdoa karena selama menjalani isolasi mandiri itu kita itu kalau perlu apa-apa harus beli sendiri,” katanya melalui sambungan telepon, Senin (7/6/2021).
Ia menuturkan, obat-obatan memang disuplai dari puskesmas. Namun, untuk mengambilnya harus nyuruh orang atau kurir dan itu perlu ongkos. Puskesmas tidak menyediakan layanan antar obat ke tempat pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri.
“Kalau waktu pertama sih ada yang nganterin obat, katanya orang dari desa, tapi setelahnya ya saya nyuruh tukang ojek online buat ngambil, itu jelas perlu duit,” ujarnya.
Masyarakat di lingkungan sekitarnya, dirasa seolah tidak peduli, sebab mereka takut terpapar kalau mendekat, sehingga jangankan untuk memberi bantuan makanan yang menanyakan kabar via telepon atau pedan singkat pun tidak ada, termasuk dari pemerintah terbawah seperti RT, RW, dan desa.
“Kalau ada keluhan saya mengirim pesan ke puskesmas meski low respon. Ya mungkin karena mereka sibuk kan sekarang yang Covid itu lagi banyak, tapi seenggaknya mereka tetap memberi layanan,” ujarnya.
Ia mempertanyakan kinerja gugus tugas covid-19 itu sebenarnya seperti apa, sebab sama sekali tidak ada yang pernah memantau kondisi keluarganya. Padahal, ia dan keluarganya sudah menjalani isolasi mandiri lebih dari seminggu.
Ia berfikir bagaimana seandainya kondisi tersebut (isolasi mandiri) harus dijalani oleh masyarakat yang tidak mampu. Bagaimana mereka bisa menyambung hidup dengan kondisi keuangan yang sulit dan lingkungan sekitar kurang peduli.
“Mending kalau yang ngalamin itu seperti saya, seenggaknya punyalah sedikit tabungan untuk biaya hidup. Kalau mereka yang nggak mampu gimana? Mau makan pake apa? Jangan sampai gara-gara terkena penyakit ini malaj menambah pederitaan mereka,” katanya.
Ia berterimakasih kepada satuan gugus tugas covid-19 Kabupaten Bandung khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas kesehatan yang cukup tanggap dalam memberi pelayanan. Namun, ia menyayangkan satgas covid-19 di tingkat bawah yang sama sekali kurang tanggap.
“Saya jadi mau nanya, kerja mereka (satgas covid-19) di lapangan itu apa aja sebenarnya. Cobalah kinerjanya lebih dioptimalkan lagi. Beri pengertian kepada masyarakat penyakit covid-19 ini bukan aib, justru kami butuh suport untuk menambah imun, bukan stigma negatif yang akhirnya membuat drop,” ujarnya.
Ia pun berharap masalah ini akan menjadi perhatian serius dari pemerintah, karena tidak sedikit masyarakat yang sedang atau sudah menjalani isolasi mandiri tapi tidak bisa menyuarakan keluhannya.
“Semoga masalah ini bisa jadi perhatian dan satgas covid-19 di lapangan bisa lebih optimal lagi kinerjanya,” ujarnya.***
Editor: denkur