“Pengakuan lembaga internasional ini perlu disyukuri dengan terus meningkatkan kinerja tata kelola universitas,” kata Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
DARA | BANDUNG – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menempati posisi 60 perguruan tinggi terbaik di Asia dalam bidang riset. Peringkat ini setara dengan Kyoto University dan Tianjin University atau lebih tinggi dibanding Singapore-MIT Alliance, University of Malaya, dan University of Electronic Science and Technology of China.
Scimago Institutions Rangking merupakan pengklasifikasi lembaga akademik yang terkait penelitian dengan menggabungkan tiga indikator, yaitu kinerja penelitian, inovasi, dan dampak sosial, yang diukur dengan visibilitas website. Scimago berkolaborasi dengan Elsiever yang menerbitkan perangkingan jurnal-jurnal di dunia, yaitu Scimago Journal Ranking (SJR).
Rektor UIN SGD Bandung, Mahmud menyatakan, pemeringkatan oleh Scimago Institutions Rangking bersifat objektif dan kredibel. Pencapaian ini sangat dibanggakan oleh institusi dan seluruh sivitas akademika.
“Pengakuan lembaga internasional ini perlu disyukuri dengan terus meningkatkan kinerja tata kelola universitas,” kata Mahmud dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2020).
Di usianya yang ke-52, lanjut Mahmud, UIN Bandung terus berbenah dan mendorong peningkatan kinerja akademik yang lebih baik. Selama masa bekerja dari rumah (WFH), ratusan karya ilmiah ditargetkan akan dipublikasikan serentak di digital library UIN Bandung.
Ada sekitar 800 dosen akan terlibat dalam salah satu tugas tridarma Perguruan Tinggi tersebut. Selain sains dan teknologi, bidang humaniora juga turut mewarnai capaian prestasi publikasi riset di jurnal internasional bereputasi.
Menurut Mahmud, pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional ini merupakan salah satu alat ukur bahwa UIN Bandung telah masuk jajaran universitas dunia. Visi UIN Bandung untuk menjadi universitas kelas dunia merupakan mimpi bersama sivitas akademika.
“Tahapannya kan kita sudah mau masuk pengakuan Asia Tenggara juga dengan sertifikasi AUN-QA. Insya Allah tahun depan ada lima prodi yang siap divisitasi,” ujarnya.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Arskal Salim, mengapresiasi capaian kinerja riset UIN Bandung. Menurutnya, riset merupakan substansi perguruan tinggi.
“Melalui riset, kualitas akademik, profesionalitas dosen, publikasi ilmiah, dan kolaborasi serta networking perguruan tinggi dengan instansi lainnya menjadi keniscayaan,” ungkap Arskal.***
Editor: Muhammad Zein