Menyedihkan, tujuh warga Bandung Barat saat ini tertahan di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur (Kaltim).
DARA | Mereka tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Kampung Hegarmanah, Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, KBB lantaran tidak punya uang.
Padahal, kedatangan mereka ke Kaltim bekerja di sebuah proyek pembangunan milik pemerintah.
Deni Rypan, salah seorang dari tujuh warga itu melaporkan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi KBB bahwa mereka tidak dibayar selama bekerja di sana.
Dalam laporan melalui sebuah tayangan video, Deni menceritakan kronologis ia bersama temannya hingga terdampar di Kutai.
“Mereka itu melaporkan kepada kita pada tanggal 25 Oktober 2023 bahwa pertama diajak kerja di proyek di Kalimantan oleh teman sekampungnya. Mereka diiming-imingi kasbon antara Rp500 ribu, sampai Rp2 juta, sebelum berangkat ke Kaltim,” kata Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi KBB, Dewi Andhani, Rabu (25/10/2023).
Ia bersama temannya diminta untuk mengirimkan data-data mereka melalui pesan WhatsApp.
Tak berselang lama, hanya dalam hitungan setengah hari teman Deni mengabarkan kalau tiket untuk keberangkatan mereka sudah tersedia.
Kemudian mereka secara lisan melakukan perjanjian, siap berangkat asalkan diberikan kasbon itu. Permintaan merekapun disanggupi, dengan catatan akan diberikan apabila sudah berada di lokasi.
Akhirnya kata Dewi, mereka berangkat karena tiket pesawat sudah ada dan jadwal keberangkatan juga sudah siap.
Saat tiba di lokasi, mereka dicek kesehatan dan diarahkan untuk pekerjaan di esok harinya.
Deni dan teman-temannya, menanyakan masalah kasbon yang dijanjikan itu.
“Dan jawabannya nanti setelah kerja 3 hari baru ada kasbon. Setelah 3 hari kerja, mereka menanyakan lagi dan dijanjikan dua minggu setelah kerja,” tutur Dewi menceritakan kembali keluhan Deni dan kawan-kawan.
Namun hasilnya masih nol besar. Kasbon yang mereka janjikan, tidak kunjung terpenuhi. Bahkan gaji merekapun belum juga dibayarkan.
Kata Deni, sambung Dewi setelah 20 hari kerja juga, masih belum ada kejelasan. Malah saling lempar antara wakil mandor, mandor dan kantornya.
Mereka terus mendesak pihak mandor perusahaan agar haknya dipenuhi.
Mirisnya, alih-alin dibayarkan haknya, ternyata kurang lebih 50% proyek yang sudah di kerjakan uangnya sudah diambil mandor.
“Makanya mereka bantuan, untuk pulang ke kampung halamannya,” ujar Dewi.
Menurutnya, saat ini Disnaker KBB tengah melakukan koordinasi dengan pihak korban.
“Kita sedang koordinasi sama mereka,” katanya.
Editor: denkur | Keterangan gambar: cuplilam video warga KBB yang terdampar di Kutai Kaltim (Foto: Ist)