Logo
Featured Image
Jabar

Jabar Siap Kembangkan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan

Jurnalis
Wartawan deram
Editor deram 26 April 2026

DARA | Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi bersama Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia (RI), dan pelaku usaha industri di Jabar melakukan penandatanganan Komitmen Bersama tentang Pengembangan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Jabar. Dalam sambutannya, KDM, sapaan Dedi Mulyadi mengungkapkan keseriusannya menciptakan ekosistem industri yang sehat di Jabar.

 

“Tugas saya sebagai Gubernur adalah mempertemukan antara pemerintah pusat dengan pengusaha yang kemudian terjadilah diskusi sehingga permasalahan selesai. Saya berkomitmen menjaga industri di Jawa Barat dari berbagai gangguan. Saya akan bantu sampai tuntas, maka investasi akan datang berbondong-bondong,” ucap KDM saat membuka Temu Industri Jawa Barat 2026: Pengembangan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Bale Gede Pakuan, Kamis (23/4/2026).

 

Sebagai perwakilan pelaku usaha industri di Jabar, hadir perwakilan dari Himpunan Kawasan Industri (HKI) Wilayah Jabar, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar, Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jabar.

 

Selaras dengan hal yang disampaikan KDM, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jabar Nining Yuliastiani, menjelaskan bahwa penting untuk menciptakan ekosistem industri yang sehat mengingat sektor industri merupakan tulang punggung ekonomi Jabar dengan kontribusi mencapai lebih dari 40 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. 

 

“Keberhasilan sektor industri akan memberikan dampak berantai (_multiplier effect_) yang signifikan bagi masyarakat. Hal ini mencakup peningkatan penyerapan tenaga kerja hingga pemanfaatan sumber daya lokal secara menyeluruh demi mendukung program hilirisasi dan pengembangan rantai pasok dalam negeri,” ungkap Nining.

 

Lebih lanjut, Nining menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk membangun komunikasi dan kolaborasi yang lebih erat dengan seluruh pemangku kepentingan.

 

“Kita ingin membangun komunikasi dan kolaborasi dengan semua _stakeholder_ untuk kemudian bersama-sama menyelesaikan pengembangan industri di Jabar. Kolaborasi ini tentunya melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga para pelaku usaha industri di wilayah Jabar,” jelas Nining.

 

Berbagai target didorong untuk dicapai dalam dokumen komitmen bersama tersebut, meliputi peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal Jawa Barat dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri, industri Jawa Barat menyediakan progam magang, peningkatan penggunaan bahan baku lokal sebagai bagian rantai pasok di sektor industri termasuk mengalokasikan pengadaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal, dan industri secara lebih aktif menerapkan standar industri hijau.

 

Untuk mendukung target tersebut, Pemdaprov Jabar telah berkomitmen meningkatkan kualitas sumder daya manusia salah satunya melalui program pemagangan, khususnya bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

 

“Program Gubernur Jabar yang berkelanjutan salah satunya adalah program pemagangan. Melalui program ini siswa sudah mulai dikenalkan dengan dunia industri. Kemudian dengan komitmen bersama ini diharapkan industri juga mendukung dengan menerima siswa untuk magang di industri-industri yang relevan dengan jurusan dari SMK,” jabar Nining.

 

Di sisi lain, jalinan kerja sama antara industri dengan sekolah juga sudah dilakukan oleh SMK yang berlokasi di dua kawasan industri (KI), yaitu KI MM2100 dan KI _Greenland International Industrial Center_ yang di mana kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan nyata industri saat ini sehingga begitu lulus siswa dapat mengisi tenaga kerja di kawasan industri tersebut.

 

Upaya lainnya untuk mencapai target tersebut juga dilakukan Pemdaprov Jabar melalui peningkatan kemitraan antara UMKM dengan industri besar. Tujuannya agar terbangun kondisi di mana rantai pasok lokal dapat terintegrasi sehingga ketergantungan bahan baku yang sifatnya pengganti bisa disubstitusi dengan sumber daya di Jabar.

 

Implementasi industri hijau juga menjadi salah satu target krusial dalam komitmen bersama. Mengutip yang disampaikan Gubernur Jabar, Nining menyampaikan bahwa industri Jabar harus berbasis ekologi. Artinya, dalam beroperasi industri harus tetap memperhatikan keberlangsungan lingkungan sekitar sehingga keberlanjutan industri pun akan terjamin.

 

“Dengan demikian, implementasi industri hijau ini juga terus kita dorong agar dapat mencapai target dalam komitmen bersama, di mana industri Jabar secara lebih intensif menerapkan standar hijau,” pungkas Nining.

 

Sebagai tindak lanjut komitmen bersama akan dibuat Rencana Aksi untuk pelaksanaannya. Langkah konkret ini diharapkan menjadi katalisator bagi terwujudnya Jawa Barat dengan industri inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

 

Opini Pembaca