Logo
Featured Image
Foto: Istimewa
Nasional

Puluhan Ribu Orang Desak Pemerintah Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang

Jurnalis
Wartawan Redaksi
Editor Denkur 2 September 2026

Surat dan petisi disampaikan kepada Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Badan Karantina Indonesia di Jakarta, sementara aksi publik digelar di Yogyakarta pada Hari Primata Internasional.


DARA | Puluhan ribu orang mendesak Pemerintah Indonesia menghentikan ekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan
penelitian dan pengujian, menyusul kembali tercatatnya kuota ekspor spesies tersebut pada 2026 setelah terakhir tercatat pada 2022.

Bertepatan dengan Hari Primata Internasional, Forum United For Primates, jaringan organisasi perlindungan satwa dan konservasi, menyuarakan desakan tersebut melalui aksi di Jakarta dan Yogyakarta. 

Di Jakarta, perwakilan Forum United For Primates menyampaikan surat resmi dan petisi kepada Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Karantina Indonesia (Barantin).

Petisi yang diinisiasi oleh JAAN, Action for Primates, dan Lady Freethinker tersebut telah mendapat dukungan lebih dari 46.565 orang.

Dalam surat yang disampaikan kepada Kementerian Kehutanan, Forum meminta antara lain agar pemerintah menangguhkan sementara ekspor monyet ekor panjang untuk penelitian dan pengujian toksisitas serta meninjau kembali kebijakan dan kuota ekspor yang telah diterbitkan.

Forum juga meminta pemerintah memastikan tidak ada monyet dari populasi liar yang digunakan untuk memasok fasilitas pembiakan komersial maupun kegiatan ekspor, meninjau kembali perlindungan hukum terhadap spesies tersebut, serta memperkuat pengembangan metode penelitian non-hewan.

“Ketika spesies yang sudah berstatus Terancam Punah kembali mendapatkan kuota ekspor bagi kepentingan penelitian dan pengujian, pemerintah perlu mempertanyakan apakah kebijakan ini masih dapat dibenarkan. Kami mendesak pemerintah menangguhkan ekspor dan meninjau kembali kebijakan ini secara menyeluruh. Selama belum ada langkah nyata, kami akan terus mengawal persoalan ini,” kata Angelina Pane, perwakilan Forum United For Primates.

Sementara di Yogyakarta, anggota Forum United For Primates bersama masyarakat menggelar aksi damai di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, yang turut dihadiri Bandizt, bassis Shaggydog sekaligus pegiat perlindungan satwa. Aksi diisi dengan orasi dan edukasi publik, serta pertunjukan pantomim oleh seniman Wanggi Hoed. Mengenakan kostum menyerupai petugas laboratorium, Wanggi berada di dalam kandang berukuran besar, membalik gambaran monyet sebagai pihak yang biasanya dikurung.

Turut tampil pula seseorang berkostum Hanoman, sebagai perlambangan makhluk mitologi, yang mengamati terjadinya proses ekspor dan pemanfaatan monyet sebagai objek uji coba di laboratorium. Pertunjukan pantomim ini menyoroti bagaimana monyet harus menjadi korban sekaligus peneliti di laboratorium yang
sering kali juga harus terjebak dalam dalam praktik usang dan permasalahan sistemik ekspor dan pemanfaatan monyet sebagai uji coba di laboratorium ini.

“Manusia dan spesies lain hidup bersama di dunia yang sama. Ketika monyet diekspor untuk eksperimen laboratorium dan mengalami rasa sakit yang sebenarnya tidak diperlukan, bagi saya ada harmoni yang hilang dalam hubungan manusia dengan spesies lain. Semua yang hidup berhak untuk hidup dan berada di habitatnya,” ujar Wanggi Hoed, dalam rilis, Rabu (2/9/2026).

Monyet ekor panjang saat ini berstatus Endangered (Terancam Punah) dalam Daftar Merah IUCN. Dalam surat yang disampaikan kepada Kementerian Kehutanan, Forum mencatat Indonesia menerbitkan kuota ekspor sebanyak 1.928 individu pada 2026, yang merupakan kuota pertama sejak 2022.

Kekhawatiran juga muncul menyusul laporan mengenai pembangunan fasilitas komersial di Kabupaten Mesuji, Lampung, dengan kapasitas sekitar
4.000 monyet ekor panjang untuk pembiakan dan ekspor ke fasilitas penelitian biomedis di luar negeri.

Desakan penghentian ekspor juga mendapat dukungan sejumlah figur publik, termasuk Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi. Di tingkat internasional, Asia for Animals Coalition bersama organisasi dari berbagai negara juga telah menyampaikan seruan kepada Pemerintah Indonesia untuk menangguhkan ekspor monyet ekor panjang untuk penelitian dan pengujian toksisitas.***

 

Dapatkan Update Berita Terkini!

Mari bergabung di Saluran WhatsApp kami untuk mendapatkan informasi terbaru dan terpercaya langsung di genggaman Anda.

Gabung Saluran WA

Opini Pembaca