Logo
Featured Image
Penyerahan Bantuan Keluarga Hebat (Balebat) Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi dan Evaluasi SDM Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Gedung Pendopo Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (30/6/2026)(Foto: Istimewa)
Daerah

Tutup Celah Kemiskinan Ekstrem Pemkab Garut Gencarkan Program Bantuan ‘Balebat’

Wartawan Agus Andre
Editor Denkur 30 Juni 2026

DARA | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut meluncurkan Penyerahan Bantuan Keluarga Hebat (Balebat) Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi dan Evaluasi SDM Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Kegiatan strategis tersebut berlangsung di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Jalan Kian Santang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (30/06/2026).

Program Balebat merupakan langkah konkret Pemkab Garut di bawah kepemimpinan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin dan Wakil Bupati Garut Putri Karlina, dalam mengimplementasikan janji kampanye. Program ini dirancang khusus untuk menambal celah penyaluran bantuan sosial agar tepat sasaran bagi masyarakat miskin ekstrem yang berada pada kategori desil satu.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengungkapkan keprihatinannya setelah menemukan adanya ketidakakuratan data di lapangan. Berdasarkan hasil investigasi bersama tenaga pendamping PKH dan Dinas Sosial, ditemukan sekitar 36 ribu warga miskin yang ternyata belum tersentuh atau tidak mendapatkan bantuan sama sekali, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

"Yang kita bagikan cuma baru 1000 orang, 1000 kali 2.000.000 ini 2 miliar tapi diberikannya secara bertahap. Data by name by adress itu dilakukan oleh PKH bersama Dinsos. Yang sekarang cash ya, dan untuk yang jauh kita kirim via pos. Per-KK satu juta, satu juta bulan Juni, satu juta bulan Desember," ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Menurut Syakur, bahwa program ini akan diusahakan berjalan setiap tahun dengan evaluasi berkala. Pemerintah daerah, ungkapnya, berkomitmen untuk memastikan bahwa mereka yang terpilih sebagai penerima manfaat adalah warga yang benar-benar layak, namun selama ini terlewat dari program bantuan sosial lainnya.

"Kan itu kita usahakan tiap tahun ada, karena kan selalu ada keluhan masyarakat terkait dengan bolong-bolong itu. Ini kan cepet sama kita kan, kita kan pake DTSEN yang bulan April. Tahun ini 1000, tahun depan kita evaluasi lagi seperti apa. Intinya adalah mereka itu eligible mendapatkan bantuan tapi tidak mendapatkan bantuan dari yang lain" ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut, Marlinda Siti Hana, meyebutkan bahwa Program Balebat hadir sebagai wujud nyata dari perwujudan delapan misi Bupati dan Wakil Bupati, khususnya pada prioritas pembangunan daerah poin keempat mengenai optimalisasi penurunan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Garut. Menurutnya, bahwa proses penyaringan data dilakukan dengan sangat ketat agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan.

"Dari total 107 ribu kepala keluarga yang berada pada desil 1, kita ambil yang benar-benar tidak mendapatkan bantuan apapun. Artinya dikeluarkan dari bantuan PKH, apalagi BPNT, BPJS, satu lagi BLT Kesra," katanya.

Marlinda menuturkan, dari jumlah tersebut, untuk tahun ini diambil seribu Kepala Keluarga (KK) prioritas berdasarkan tingkatan usia kepala keluarga yang paling tua, dengan pembagian yang rata dan adil sekitar dua hingga tiga Kepala Keluarga per desa.

"Total dari 107ribu sekian kepala keluarga desil 1 artinya masyarakat miskin ekstrim total tersisa 36 ribu. Dari 36 ribu tahun ini diambil seribu, seribu akan kita bagikan 2 juta per KK yang diberikan dua kali untuk tahun ini, yang pertama sekarang di bulan Juni 1000 orang," katanya.

Dinas Sosial, lanjut Marlinda, menyadari bahwa setiap regulasi baru pasti memicu dinamika di masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya siap memaparkan secara rinci aspek teknis penentuan regulasi ini. Marlinda menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada validitas data.

"Sehingga pelaksanaan pengecekan langsung di lapangan atau groundchecking menjadi hal yang sangat krusial demi memastikan ketepatan sasaran penerima manfaat ke depannya," ucap Marlinda.***

 

Opini Pembaca