Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an.
DARA | Nuzulul Qur'an adalah momen turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril.
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam, karena sejak saat itulah Alquran mulai diturunkan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia.
Alquran diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan misi besar untuk memperbaiki tatanan kehidupan manusia, menegakkan keadilan, serta membimbing manusia menuju jalan kebenaran.
Menurut para ulama tafsir, proses turunnya Alquran tidak terjadi dalam satu tahap saja, melainkan melalui dua fase utama yang memiliki hikmah tersendiri.
Fase Pertama: Turunnya Alquran Secara Keseluruhan
Fase pertama dikenal oleh para mufasir sebagai turunnya Alquran secara sekaligus (jumlatan wāḥidah). Pada tahap ini, Alquran diturunkan oleh Allah dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan hal ini, sebagaimana dinukil oleh Imam al-Qurthubi (wafat 671 H) dari riwayat Ibnu Abbas:
الْمَعْنَى إِنَّا ابْتَدَأْنَا إِنْزَالَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَقِيلَ: بَلْ نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ جُمْلَةً وَاحِدَةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، إِلَى بَيْتِ الْعِزَّةِ، وَأَمْلَاهُ جِبْرِيلُ عَلَى السَّفَرَةِ، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ يُنْزِلُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُجُومًا نُجُومًا. وَكَانَ بَيْنَ أَوَّلِهِ وَآخِرهِ ثَلَاثٌ وَعِشْرُونَ سَنَةً، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ
“Maknanya adalah: Kami memulai penurunannya pada malam Lailatul Qadar. Ada pula yang mengatakan bahwa Jibril AS menurunkannya sekaligus pada malam Lailatul Qadar dari Lauh al-Mahfuz ke langit dunia, ke Baitul ‘Izzah. Kemudian Jibril mendiktekannya kepada para malaikat penulis (as-safarah). Setelah itu, Jibril menurunkannya kepada Nabi SAW secara bertahap, sedikit demi sedikit. Jarak antara permulaan turunnya dan akhirnya adalah dua puluh tiga tahun, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Abbas.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], vol. 20, h. 130)
Pendapat ini juga diperkuat oleh banyak ulama, di antaranya Imam Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794 H). Beliau menyatakan bahwa pandangan yang menyebut Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia, lalu diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW merupakan pendapat yang paling kuat serta paling banyak dipegang oleh para ulama:
وَاخْتُلِفَ فِي كَيْفِيَّةِ الْإِنْزَالِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ. وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ ابْتُدِئَ إِنْزَالُهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثُمَّ نَزَلَ بَعْدَ ذَلِكَ مُنَجَّمًا فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ مِنْ سَائِرِ الْأَوْقَاتِ. وَالْقَوْلُ الْأَوَّلُ أَشْهُرُ وَأَصَحُّ وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْأَكْثَرُونَ وَيُؤَيِّدُهُ مَا رَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثُمَّ نَزَلَ بَعْدَ ذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً
“Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara turunnya Alquran menjadi tiga pendapat. Pendapat ketiga menyatakan bahwa permulaan turunnya Alquran terjadi pada malam Lailatul Qadar, kemudian setelah itu diturunkan secara berangsur-angsur pada waktu-waktu yang berbeda. Namun, pendapat pertama adalah yang paling populer dan sahih, itulah yang dipegang oleh mayoritas ulama. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Ibn Abbas yang berkata: Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian setelah itu diturunkan secara bertahap selama dua puluh tahun.” (Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an [Mesir: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah], vol. 1, h. 228)
Dengan demikian, fase pertama merupakan tahap awal penurunan Alquran secara keseluruhan sebelum disampaikan secara berangsur kepada Nabi Muhammad SAW.
Fase Kedua: Turunnya Alquran Secara Bertahap
Fase kedua merupakan turunnya Alquran secara bertahap (munajjaman) kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Proses ini berlangsung selama sekitar 22 hingga 23 tahun, sejak awal kenabian hingga menjelang wafatnya Rasulullah SAW.
Turunnya ayat-ayat Alquran secara bertahap memiliki hikmah yang besar. Ayat-ayat tersebut sering kali turun untuk menjawab persoalan yang sedang terjadi, memberikan tuntunan hukum, serta menguatkan hati Nabi Muhammad dan para sahabat dalam menghadapi berbagai ujian. Imam al-Wahidi (wafat 468 H) mengutip penjelasan Ibn Abbas terkait proses ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر. أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَكَانَ بِمَوْقِعِ النُّجُومِ، وَكَانَ اللَّهُ تَعَالَى يُنَزِّلُهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَهُ فِي أَثَرِ بَعْضٍ
“Dari Ibn Abbas mengenai firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Beliau berkata: Alquran diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar ke langit dunia, lalu berada pada tempat-tempat seperti bintang-bintang. Kemudian Allah Ta’ala menurunkannya kepada Rasul-Nya SAW sedikit demi sedikit, sebagian demi sebagian.” (Tafsir al-Wasith [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], vol. 4, h. 532)
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H). Menurut beliau, Allah memulai penurunan Alquran pada malam Lailatul Qadar, kemudian menyempurnakan penurunannya secara berangsur selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa yang terjadi:
أَيْ إِنَّنَا نَحْنُ اللَّهُ بَدَأْنَا إِنْزَالَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَهِيَ اللَّيْلَةُ الْمُبَارَكَةُ، ثُمَّ أَتْمَمْنَا إِنْزَالَهُ بَعْدَ ذَلِكَ مُنَجَّمًا فِي ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً بِحَسَبِ الْحَاجَةِ وَمَا تَقْتَضِيهِ الْوَقَائِعُ وَالْحَوَادِثُ، تِبْيَانًا لِلْحُكْمِ الْإِلَهِيِّ فِيهَا
“Maksudnya, sesungguhnya Kami yaitu Allah memulai penurunan Alquran pada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang penuh berkah. Kemudian, setelah itu Kami menyempurnakan penurunannya secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, sesuai dengan kebutuhan serta peristiwa dan kejadian yang terjadi, sebagai penjelasan terhadap hukum-hukum ilahi di dalamnya.” (Tafsir al-Munir [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 4, h. 532)
Berdasarkan penjelasan para ulama tafsir tersebut, dapat disimpulkan bahwa turunnya Alquran terjadi melalui dua tahap utama.
Pertama, diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Kedua, diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama masa kenabian.
Cara penurunan ini menunjukkan bahwa Alquran hadir bukan sekadar sebagai kitab suci yang dibaca, melainkan sebagai petunjuk hidup yang membimbing manusia secara bertahap sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan umat.
Artikel ini sebelumnya sudah ditayangkan di laman resmi MUI dengan judul" Bagaimana Alquran Diturunkan? Ini 2 Fasenya Menurut Ulama Tafsir dan ditulis oleh A Zaeni Misbaahuddin Asyuari, Hakim.
Editor: denkur

Opini Pembaca