DARA | Drone dan rudal balistik Iran, meluluhlantakan fasilitas pengolahan minyak utama milik Saudi Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi, pada Senin (2/3/2026). Arab Saudi dikabarkan menderita kerugian besar.
Hantaman rudal balistik Iran itu memaksa Arab Saudi menghentikan sementara operasional kilang sebagai langkah antisipasi keamanan.
Aksi militer Teheran ini merupakan serangan balasan atas operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Konflik Iran -AS - Israel terus memanas setelah gugurnya sejumlah petinggi militer Iran dalam serangan tersebut.
Gugurnya sejumlah nama penting itu memicu Iran untuk melancarkan serangan balasan ke berbagai aset strategis sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab dan Qatar.
Serangan terhadap jantung energi Arab Saudi memberikan dampak langsung yang signifikan bagi Amerika Serikat.
Hancurnya fasilitas pengolahan minyak Arab Saudi iti berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah dunia langsung melonjak mendekati $80 per barel.
Dikabarkan bagi AS, hal ini memicu kekhawatiran akan kenaikan harga bensin domestik dan inflasi yang lebih luas, serta berdampak pada krisis energi.
Terlebih Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, yang mengancam stabilitas ekonomi dan logistik militer AS di kawasan tersebut.
Situasi yang terjadi di jazirah teluk itu mendorong AS terlibat lebih dalam secara fisik. Karena itu Gedung Putih dan Pentagon terus berkoordinasi dengan negara-negara Teluk untuk memperkuat pertahanan udara guna mencegah gelombang serangan rudal susulan

Opini Pembaca