| Desa itu bernama Pangauban. Sebuah desa di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, yang dari namanya saja sudah menjelaskan banyak hal — pangauban, dalam bahasa Sunda, berarti tempat berhimpun, ruang menumpang bersama di bawah satu naungan.
Di salah satu villa di desa itu, Villa Perancis, Rabu 20 Mei 2026, kata pangauban itu berubah dari sekadar nama administratif menjadi nama sebuah gerakan. Pada pukul 13.00 WIB, sekitar tiga ratus orang berhimpun untuk mendeklarasikan Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan, atau Pager Saguling, sebagai gerakan tingkat nasional.
Acara dibuka MC, dilanjutkan dengan pembacaan dua ayat oleh Ustadz Rizal Al-Baqoroh. Pilihan ayatnya tidak sembarangan: QS. Al-Baqarah ayat 30 — tentang manusia yang dijadikan khalifah di bumi, dan QS. Ar-Rum ayat 41 — tentang kerusakan di darat dan laut yang muncul karena tangan manusia sendiri.
Dua ayat itu adalah jangkar teologis paling dikenal dalam tradisi ekoteologi Islam. Para inisiator memilihnya untuk menegaskan bahwa Pager Saguling tidak berdiri di atas argumentasi sekuler tentang krisis iklim. Ia berdiri di atas tanggung jawab moral seorang khalifah yang dititipi bumi.
Para Anak Yatim Lebih Dulu
Sebelum pidato, sebelum tausiah, sebelum spanduk dibentangkan, puluhan anak yatim dan dhuafa dari kampung-kampung di sekitar Danau Saguling lebih dulu dipanggil ke depan.
Mereka menerima bingkisan berbungkus tile biru — beras, mi instan, sebungkus kue, dan beberapa membawa pulang mushaf Al-Qur'an.
Salah seorang anak laki-laki, sekitar tujuh tahun, mengenakan kaus biru bertuliskan "National Grand Company" — kaus pasar bekas yang sudah dipakai entah berapa anak sebelumnya. Ia menerima bingkisan, mengangguk pelan kepada inisiator yang menyerahkannya, lalu mundur memberi giliran kepada anak di belakangnya.
Lima inisiator gerakan — Haris Bunyamin yang juga konseptor deklarasi, Vega Karwanda, Henda Suwenda, Kustiwa Kartawiria, dan Ustadz Hedar Suhendar — bergantian menyerahkan bingkisan. Tidak ada panggung megah. Tidak ada pidato pembukaan. Hanya antrean anak-anak yang sebagian sudah lupa wajah ayah mereka.
"Kalau kita bicara menjaga bumi, tetapi anak-anak di sebelah kita lapar, kita kehilangan dasar moralnya," kata Haris Bunyamin di sela kegiatan.
Tausiah Kebangsaan dari Sang Guru Besar
Sesi tausiah disampaikan Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, M.A., Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus Ketua Corp Mubaligh Bandung. Pakar komunikasi politik kelahiran Bandung 1961 itu mengaitkan momentum Hari Kebangkitan Nasional dengan kebangkitan kesadaran ekologis bangsa.
Sebelumnya, Drs. H. Agus Ishak dari Pondok Pesantren Arafah menyampaikan doa dan sekapur sirih. Hadir pula tokoh lingkungan Jawa Barat senior, Eyang Memet — Memet Ahmad Surahman, kelahiran 29 November 1953 — dengan jaket olive green dan topi kupluk hitamnya yang khas; Dr. Kun-Kunrat, M.Si; Ketua KORMI Jawa Barat Ir. Denda; Dr. Endang, SH., MH.; serta Agus Khazim dan Zaki Zimatillah Z. dari Pusat Peran Serta Masyarakat (PPM). Ratusan tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan perwakilan santri Kabupaten Bandung Barat melengkapi peserta.
Tema dalam Bahasa Sunda
Spanduk besar di belakang panggung memuat tema deklarasi dalam bahasa Sunda: "Ngahudang Kasadaran, Ngariksa Lingkungan, Ngajaga Cai Pikeun Kahirupan Bangsa" — Membangkitkan Kesadaran, Menjaga Lingkungan, Menjaga Air untuk Kehidupan Bangsa.
Pilihan bahasa itu sengaja. Para inisiator tidak ingin gerakan ini terdengar seperti laporan PBB. Mereka ingin ia terdengar seperti percakapan di balai desa.
Rajah dan Ngahudang Cai
Setelah tausiah, prosesi masuk ke ranah budaya. Sebuah Rajah Bubuka — mantra pembuka tradisi Sunda — dilantunkan sebagai pintu spiritual gerakan. Kemudian diputar video pendek berjudul "Ngahudang Cai", refleksi tentang krisis air di kawasan Citarum.
Naskah deklarasi kemudian dibacakan bersama oleh para deklarator. Penandatanganan dilakukan sebagai bentuk komitmen moral, bukan komitmen administratif.
Puncak prosesi adalah Ngahudang Cai — secara harfiah, "membangunkan air". Sebuah ritual sederhana tetapi penuh makna: air diambil dari mata air (seke) di sekitar kawasan Saguling, dibawa ke tempat acara, didoakan bersama, lalu peserta menerima bibit pohon untuk ditanam.
Air dan pohon. Dua simbol paling tua dalam peradaban Nusantara. Dipertemukan kembali di sebuah villa di Desa Pangauban, dengan latar Danau Saguling yang permukaannya tertutup eceng gondok sejauh 94 hektare.
Saguling yang Sedang Sakit
Pemilihan lokasi tidak mungkin lebih simbolik. Saguling adalah pintu pertama Sungai Citarum sebelum air mengalir ke Cirata dan Jatiluhur — tiga waduk bertingkat yang menopang pasokan listrik Jawa-Bali dan irigasi pertanian di sepanjang Citarum hilir.
Per Mei 2026, PLN Indonesia Power UBP Saguling melaporkan 94 hektare permukaan waduk tertutup eceng gondok. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat 200 ton sampah masuk ke DAS Citarum setiap hari. Laju sedimentasi waduk menyentuh 4,2 juta meter kubik per tahun. Jika dibiarkan, usia operasional PLTA Saguling akan dipangkas signifikan dari rencana awal.
Gong yang Ditabuh Eyang Memet
Menjelang sore, gong kuningan tua dengan dudukan kayu ukir di sudut panggung ditabuh oleh Eyang Memet. Suaranya pelan, dalam, terdengar sebentar lalu menghilang di antara percakapan peserta yang mulai berkemas.
Di luar villa, danau itu masih ada. Eceng gondoknya juga masih ada. Tetapi di sebuah desa bernama Pangauban, satu gerakan baru dimulai — dengan ayat Al-Qur'an, bingkisan untuk anak yatim, air dari mata air, dan bibit pohon yang akan ditanam besok pagi.***
