Logo
Featured Image
Foto: Istimewa
Bandungraya

Maksimalkan Komunikasi, Cegah Intoleransi di Wilayah Bandung Barat 

Jurnalis
Wartawan Redaksi
Editor Denkur 31 Maret 2026

Melalui komunikasi seperti itu diharapkan bisa memberikan penguatan kerukunan beragama serta mencegah tindakan intoleransi.


DARA | Pemerrintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) bersama sejumlah perwakilan dari berbagai unsur masyarakat duduk bersama membahas tentang penguatan moderasi beragama di Gedung Serbaguna, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Senin (30/3/2026).

Dialog interaktif tersebut, menghadirkan nara sumber dari Kemenag KBB, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umnat Beragama (FKUB) yang diikuti  puluhan peserta dari perwakilan tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi dan aparat keamanan.

Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) KBB, Agnes Virganty mengatakan, melalui komunikasi seperti itu diharapkan bisa memberikan penguatan kerukunan beragama serta mencegah tindakan intoleransi.

"(Kegiatan) ini merupakan forum strategis untuk merawat keharmonisan dan kerukunan ummat beragama di Bandung Barat," ujar Agnes, usai membuka acara tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, masing-masing nara sumber menyampaikan berbagai hal sesuai dengan background mereka. Mulai membahas regulasi, kebijakan pemerintah daerah seperti apa, yang disampaikan Kemenag, dialog untuk menjaga kerukunan beragama di tengah keragaman oleh FKUB serta dari yang melalukam upaya preventif untuk pembinan kerukunan beragama. 

Sementara Sekretaris MUI KBB, Agus Idris berpendapat masih adanya gesekan antar ummat beragama, diantaranya lebih disebabkan pemahaman tentang agamanya masih sepotong-sepotong.

Terlebih pemahaman agamanya didapat hanya berdasarkan informasi dari media sosial (medsos), sehingga pemahamannya tidak utuh.

Budaya menerima informasi tanpa verifikasi membuat isu keagamaan mudah diprovokasi. 

Oleh sebab itu, MUI mengharapkan agar masyarakat meningkatkan literasinya sehingga mampu memverifikasi informasi, dan bijak dalam berkomentar.

"Insha Allah, kalau semuanya faham itu, tidak akan ada lagi gesekan (amtar ummat beragama)," ucapnya.

Menyinggung tentang kondisi moderasi agama di Bandung Barat, H. Agus menyatakan jika toleransi beragamanya di ataa 80 persen. Selama ini, Bandung Barat dinilai relatif aman dari intoleransi.

Ketua FKUB KBB, Unang Abidin lebih santai menjawab tentang intoleransi di lingkungan masyarakat.

Ia berpendapat jika di lapangan aman-aman saja meski adanya keragaman beragama. Kalaupun ada, dianggapnya hanya riak-riak kecil saja.

"Yang meramaikan, kan berita di medsos. Di lapangan nggak ada apa-apa. Saya kira baik-baik saja, baik di KBB maupun di daerah lainnya," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah turun tangan untuk informasi hoak di medsos, agar isu-isu yang tidak benar itu, tidak lagi berkembang

"Saya pernah ke Sulawesi, ke daerah lainnya ke sebelah timur. Nggak ada masalah (gesekan antar agama)," ujarnya.***

Opini Pembaca