Logo
Nasional

Mensesneg Prasetyo : Groundbreaking 18 Proyek Hilirisasi Paling Lambat Maret 2026

Mensesneg Prasetyo : Groundbreaking 18 Proyek Hilirisasi Paling Lambat Maret 2026
Mensesneg Prasetyo Hadi (foto;ist)

DARA I Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, ground breaking 18 proyek hilirisasi yang tengah dikaji Danantara paling lambat Maret 2026. 

Presiden Prabowo Subianto, kata Prasetyo meminta agar pelaksanaan peletakan batu pertama atau "groundbreaking" 18 proyek hilirisasi yang sedang dikaji Danantara dapat dilakukan paling lambat pada Maret 2026.

"Dari enam proyek yang telah diputuskan untuk melakukan groundbreaking pada Januari, Presiden meminta agar sisa proyek lainnya dipercepat sehingga pada Februari atau paling lambat Maret, seluruh 18 proyek dapat dilaksanakan," ungkap Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Rabu (7/1/2026).

Menururt Prasetyo, satu dari 18 proyek yang dibangun itu adalah proyek "waste-to-energy" atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Proyek tersebut, kata dia, dibangun di 34 titik yang tersebar di 34 kabupaten/kota, khususnya di daerah dengan volume timbunan sampah harian mencapai rata-rata 1.000 ton per hari.

Pembangunan PSEL diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah.

“Waste-to-energy akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari. Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah,” jelas Mensesneg.

Sebelumnya, pemerintah menyampaikan 18 proyek hilirisasi tersebut telah melewati tahap prastudi kelayakan, dan diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai Rp600 triliun. Realisasi investasi proyek-proyek tersebut akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia.

Sementara itu, PSEL merupakan proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi untuk menghasilkan energi, seperti panas, listrik, atau bahan bakar alternatif. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung kemandirian energi nasional, mengurangi volume sampah terbuka, serta menekan ketergantungan terhadap energi konvensional, seperti batu bara.

Selain proyek "waste-to-energy", Prasetyo juga menyebutkan pemerintah segera melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

DME merupakan salah satu bagian dari hilirisasi batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif. Ini diharapkan mampu mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap gas LPG.

“Kemudian, juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga,” ucap Mensesneg. Lebih lanjut, ia mengungkapkan Presiden Prabowo meminta agar berbagai program prioritas, termasuk hilirisasi dapat dipercepat pelaksanaannya.

Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama lintas kementerian dan lembaga guna mendukung pencapaian program-program besar pada 2026.

"Orientasi kerja harus sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara serta masyarakat, dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan ego sektoral. Apabila terjadi permasalahan, seluruh pihak diminta segera mencari titik temu agar program dapat berjalan dengan baik," tutur Mensesneg.

Apabila muncul permasalahan dalam pelaksanaan program, maka seluruh pihak diminta agar secepatnya mencari titik temu sehingga program tetap dapat berjalan.

Selebihnya, Presiden Prabowo menegaskan agar seluruh jajaran bekerja cepat, cerdas, tidak normatif, serta mampu berpikir "out of the box" untuk menemukan terobosan demi percepatan pencapaian program nasional.