Logo
Featured Image
Korea–Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) menggelar International Seminar on Sustainable Marine Ecosystem Development through Science, Policy, and International Collaboration to Enhance Blue Food Security di Lombok, 17 Septembe
Nasional

MTCRC Dorong Kolaborasi Sains dan Kebijakan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Biru

Jurnalis
Wartawan deram
Editor deram 22 September 2026

DARA | Pengelolaan laut berkelanjutan membutuhkan keterhubungan antara sains, teknologi, kebijakan, dan aksi nyata. Gagasan tersebut mengemuka dalam International Seminar on Sustainable Marine Ecosystem Development through Science, Policy, and International Collaboration to Enhance Blue Food Security yang digelar Korea–Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) bersama para mitra di Lombok, 17 September 2026.

 

Seminar yang diikuti lebih dari 100 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, peneliti, industri, organisasi nonpemerintah, dan mahasiswa ini membahas sejumlah isu strategis, mulai dari konservasi ekosistem pesisir, pemantauan lingkungan laut, penataan ruang laut, hingga pengembangan sumber daya kelautan untuk mendukung blue food security atau ketahanan pangan berbasis sumber daya laut.

 

Deputi Koordinator Bidang Sumber Daya Maritim Dandy Satria Iswara mengatakan, laut bagi Indonesia bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga sumber pangan, mata pencaharian, inovasi, dan peluang ekonomi.

 

“Ekosistem yang sehat mendukung perikanan dan akuakultur. Sains membantu kita memahami bagaimana mengelolanya dengan lebih baik. Teknologi memungkinkan kita menghasilkan lebih banyak secara efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Menurut dia, pengelolaan laut perlu merespons tantangan perubahan iklim, pencemaran, pengembangan akuakultur berkelanjutan, serta pengelolaan wilayah pesisir. Karena itu, kerja sama riset dan teknologi perlu diarahkan pada solusi yang dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat pesisir.

Seminar menghadirkan pembicara dari Indonesia, Korea Selatan, dan Jerman dengan pembahasan yang mencakup aspek ekologi hingga peluang ekonomi kelautan.

 

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Ir. Sitti Hilyana, M.Si. membahas perubahan dan masa depan ekosistem pesisir Indonesia dan Lombok, termasuk tantangan abrasi serta perubahan tutupan mangrove. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan peran kerja sama regional dalam perlindungan ekosistem pulau-pulau kecil dan pentingnya marine spatial planning dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan keberlanjutan ekosistem.

 

Sesi kedua memperluas pembahasan pada teknologi pemantauan lingkungan laut, bioindustri, dan peluang industri kelautan masa depan. 

 

Ivonne M. Radjawane, Ph.D. membahas teknologi pemantauan laut, sementara Dr. Wahyu Purbiantoro dari BRIN mengulas pengembangan produk bioindustri kelautan untuk mendukung ketahanan pangan biru. Seminar ditutup dengan pemaparan Dr. Heung-Sik Park mengenai peluang pengembangan industri berbasis lingkungan laut tropis.

 

President of the Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST), Lee Hee-seung, mengatakan pembangunan kelautan berkelanjutan perlu menjaga keseimbangan antara konservasi ekosistem dan pemanfaatan sumber daya laut secara bertanggung jawab.

 

Sementara itu, Director MTCRC Kim Namhoon menegaskan bahwa forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama Indonesia–Korea melalui pertukaran pengetahuan, penelitian, pengembangan teknologi, dan penguatan kapasitas.

*Memperkuat Jejaring Indonesia–Korea*

Manager MTCRC Yazid Ridla mengatakan seminar tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan, tetapi juga mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan keahlian dalam pengelolaan laut.

 

“Tantangan kelautan tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor atau satu negara. Karena itu, yang ingin kami bangun melalui kegiatan ini adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan pengalaman praktis untuk menghasilkan gagasan yang relevan bagi kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem laut,” kata Yazid.

Seminar ini merupakan bagian akhir dari rangkaian International Training and Seminar MTCRC yang berlangsung pada 15–17 September 2026 dan terdaftar sebagai bagian dari agenda KICOEST UN Ocean Decade.

 

Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari momentum delapan tahun MTCRC dalam memperkuat kerja sama Indonesia–Korea di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan.

 

Melalui rangkaian kegiatan ini, MTCRC bersama para mitra mendorong terbentuknya jejaring kolaborasi yang menghubungkan riset, kebijakan, teknologi, dan implementasi untuk mendukung ekosistem laut yang sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan biru bagi generasi mendatang.

 

Dapatkan Update Berita Terkini!

Mari bergabung di Saluran WhatsApp kami untuk mendapatkan informasi terbaru dan terpercaya langsung di genggaman Anda.

Gabung Saluran WA

Opini Pembaca