| Makanan beku (frozen food) semakin menjadi bagian dari keseharian rumah tangga Indonesia karena menawarkan kepraktisan di tengah aktivitas yang padat, sekaligus menyediakan beragam pilihan makanan. Mulai dari produk daging olahan dan camilan beku hingga makanan siap masak, frozen food diminati karena mudah disiapkan dan memiliki masa simpan yang relatif panjang.
Seiring berkembangnya preferensi konsumen, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan, mulai dari jenis produk hingga kandungan nutrisi.
Untuk memahami kebiasaan tersebut, Jakpat mensurvei 1.228 responden di Indonesia mengenai konsumsi berbagai jenis makanan beku.
Nugget, sosis, dan kentang goreng beku mendominasi pilihan konsumen
Hasil survei Jakpat menunjukkan bahwa produk yang familier masih mendominasi konsumsi makanan beku di Indonesia. Pada kategori daging olahan beku, nugget dan sosis menjadi pilihan utama, masing-masing dikonsumsi oleh lebih dari 80% responden dalam enam bulan terakhir. Bakso juga cukup populer dengan tingkat konsumsi sebesar 63%, diikuti dimsum (55%) dan fish cake (40%).
Preferensi serupa terlihat pada kategori camilan beku. Kentang goreng menjadi pilihan teratas dengan tingkat konsumsi sembilan dari sepuluh konsumen kategori ini. Cireng menyusul dengan 60%, diikuti donat (56%), risol mayo (55%), dan pempek (51%).
Temuan ini memperlihatkan kuatnya posisi produk yang sudah akrab di kalangan konsumen, baik sebagai lauk maupun camilan praktis.
Menurut Septiana Widi Sugiastuti, Research Lead Jakpat, pasar makanan beku semakin ditopang oleh produk-produk yang sudah menjadi favorit konsumen.
“Nugget, sosis, dan kentang goreng masih menjadi pilihan utama dalam konsumsi makanan beku. Hal ini menunjukkan bahwa kepraktisan tetap menjadi salah satu faktor penting dalam kategori ini, terutama melalui produk yang mudah diolah dan sudah familier bagi konsumen," ujarnya dalam rilis, Jumat (23/10/2026).
Protein semakin menjadi pertimbangan dalam memilih makanan beku
Selain jenis produk, kandungan nutrisi juga menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam memilih makanan beku. Dibandingkan 2024, perhatian terhadap klaim tinggi protein (high protein) meningkat dari 57% menjadi 61%, sekaligus menjadikannya klaim nutrisi yang paling banyak dicari pada 2026.
Sebaliknya, perhatian terhadap produk tanpa bahan pengawet menurun dari 63% menjadi 57%. Penurunan serupa terlihat pada klaim tanpa pewarna tambahan, dari 55% menjadi 47%.
Perubahan ini mengindikasikan bahwa perhatian konsumen terhadap makanan beku tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan bahan tertentu, tetapi juga semakin mencakup manfaat nutrisi yang ditawarkan produk.
Septiana menjelaskan perubahan tersebut membuka peluang bagi merek untuk menonjolkan nilai gizi produknya.
“Peluang di pasar makanan beku semakin berkembang, dari sekadar menonjolkan apa yang tidak terkandung dalam produk menjadi manfaat yang bisa diperoleh konsumen. Dalam hal ini, protein menjadi salah satu aspek yang semakin diperhatikan, sehingga komunikasi produk dapat diarahkan pada manfaat nutrisi yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” tuturnya.
Fiesta dan So Good memimpin kesadaran merek nugget, Fiesta tetap unggul dalam konsumsi
Dalam kategori nugget beku, Fiesta dan So Good memimpin kesadaran merek (brand awareness) pada 2026. Keduanya dikenal oleh masing-masing 86% responden. Namun, dari sisi konsumsi, Fiesta tetap menempati posisi teratas meskipun persentasenya sedikit menurun, dari 61% pada 2024 menjadi 59% pada 2026. Kanzler mempertahankan tingkat konsumsi sebesar 55% pada kedua periode.
Sementara itu, So Nice mengalami kenaikan dari 48% pada 2024 menjadi 50% pada 2026, sehingga naik ke posisi keempat, menggantikan Champ yang mengalami penurunan dari 51% menjadi 46%.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya dinamika persaingan di antara merek-merek nugget beku, meskipun Fiesta masih mempertahankan posisinya sebagai merek dengan tingkat konsumsi tertinggi.
Pada kategori kentang goreng beku, Fiesta juga memimpin brand awareness dengan 82% responden mengenal merek tersebut. Angka ini jauh di atas Golden Farm (57%) dan Belfoods (56%). Dari sisi konsumsi, Fiesta mempertahankan angka 64%, sama seperti pada 2024, sementara sejumlah merek terkemuka lainnya mengalami sedikit penurunan.
Menurut Septiana Widi Sugiastuti, Research Lead Jakpat, kesadaran merek yang kuat dapat berjalan beriringan dengan preferensi konsumsi.
“Fiesta dan Kanzler tetap menjadi pemain penting dalam kategori makanan beku. Namun, perubahan tingkat konsumsi pada sejumlah merek menunjukkan bahwa pasar terus berkembang. Bagi merek, menjaga relevansi produk dan memahami perubahan preferensi konsumen menjadi hal penting untuk mempertahankan posisinya di tengah persaingan,” ujarnya.
