DARA | Serangan balasan Iran atas gempuran AS ke beberapa pangkalan militer AS di negara jazirah arab mengundang kekhawatirn. Bahkan stabilitas kawasan Timur Tengah berada di titik nadir setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan operasi militer berskala besar bertajuk "Truthful Promise 4" pada Sabtu (28/2/2026). Serangan yang melibatkan kawanan drone dan rudal balistik ini menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk, memicu kekacauan hebat di jantung eksportir minyak dunia.

Media di kawasan Timur Tengah melansir poin-poin krusial situasi terkini yang memyatakan target serangan Iran secara spesifik menghantam instalasi militer AS di Arab Saudi, Bahrain (Markas Armada ke-5), Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
 Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga ke pusat kota Riyadh, menandakan penetrasi serangan yang melampaui perimeter pertahanan perbatasan.
 
Karena itu transportasi udara, Saudi Airlines  membatalkan rute internasional, sementara Qatar Airways menghentikan seluruh operasionalnya demi keamanan kru dan penumpang.

Dikabarkan pemicu utama itu adalah terjadinya eskalasi yang merupakan aksi balasan langsung atas serangan udara besar-besaran AS dan Israel ke Teheran pada Sabtu pagi. Serangan AS itu  menyasar kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

 Dikabarkan   Pemerintah Arab Saudi mengutuk serangan ini sebagai "agresi keji" dan menegaskan kesiapan militer penuh untuk melindungi kedaulatan wilayahnya.