Bencana Longsor Pasirlangu: Kehilangan Empat Keluarganya, Yulia Berurai Air Mata
Rumah Orangtuanya Nyaris Rata dengan Tanah
Sedangkan, ibu kandungnya Imas serta Pipit, kakaknya hingga kini belum berhasil diketemukan.
IBU muda, Yulia (34), warga Kampung Pasikuning RT 5 RW 11 Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa berurai mata ketika mendapati keluarganya menjadi korban longsor yang terjadi Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Ayah, ibu, kakak dan adiknya menjadi korban bencana yang memilukan tersebut. Ia sendiri bersama anak dan suaminya, bisa menyelamatkan diri dari terjangan petaka itu.
Saat peristiwa, Yulia mengatakan tengah tertidur bersama keluarga kecil di rumahnya, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan orang tuanya.
"Sekitar jam setengah tiga, saya terbangun mendengar suara orang minta tolong dan teriak longsor. Langsung saja kita (anak dan suaminya), berlari ke luar rumah menyelamatkan diri," ujar ibu, dari satu anak ini saat ditemui di tempat penampungan korban bencana, Aula Kantor Desa Pasirlangu, Senin (26/1/2026).
Ia bersama warga lainnya, setengah berlari mencari tempat yang aman. Sementara kondisi di luar hujan cukup deras dan gelap karena mati lampu.
Sempat kebingungan mencari tempat berlindung, karena tidak tahu longsor mengarah kemana.
"Kita ikuti saja yang lainnya. Berjalan dan terus berjalan, akhirnya sampai ke kantor desa sekitar setengah empat pagi. Ya di situlah kita berkumpul dengan kondisi badan basah kuyup," papanya, dalam bahasa Sunda.
Ketika hari mulai terang, baru diketahui jika longsor itu menimpa rumah orang tuanya. Yulia mengambil kesimpulan jika keluarganya ikut tertimbun longsor.
Benar saja, kondisi rumah orang tuanya nyaris rata dengan tanah. Ia hanya berharap dan berdo'a jika keluarganya bisa sempat menyelamatkan diri.
Harapan tinggal harapan, kenyataannya ayahnya bernama Dadang dan adiknya, Andri diketemukan meninggal dari timbunan longsor.
Sedangkan, ibu kandungnya Imas serta Pipit, kakaknya hingga kini belum berhasil diketemukan.
"Saya hanya bisa berdo'a ya Allah, semoga dimudahkan (ketemu) semuanya," ucapnya terbata-bata.
Sebelum peristiwa nahas tersebut, Yulia mengaku tidak enak hati. Hujan yang terus menerus disertai angin kencang, membuat ia merasa gelisah.
"Mana aliran (mati lampu) dari hari Jum'at mulai sehabis Jum'atan sampai kejadian
longsorpun (mati lampu)," ungkapnya.
Hingga sekarang, Yulia mengaku masih trauma. Suara dentuman keras, jelang longsor itu pada awalnya dikira ada gempa.
"Ya Allah ternyata itu longsor, bukan gempa," ucapnya mengakhiri cerita.
Editor: Maji
