Logo
Catatan

Pers Penyuling Air Bersih di Tengah Mesin Alogaritma

Catatan Refleksi HPN 2026

Pers Penyuling Air Bersih di Tengah Mesin Alogaritma
Dimas Supriyanto

KETIKA Prof. Komaruddin menyebut pers sebagai “lembaga penyulingan,” metafora itu bukan sekadar puitis, melainkan kritik halus atas praktik jurnalistik yang kerap terjebak dalam derasnya arus informasi mentah. Penyulingan berarti memilih, menyaring, dan memurnikan. Ia mengandaikan kesabaran, ketelitian, serta tanggung jawab moral.

Dalam bayangan Ketua Dewan Pers itu, pers tidak berlomba menambah kebisingan, tetapi justru menghadirkan kejernihan—menawarkan “air bersih” kepada masyarakat yang mulai letih, bahkan muak, oleh berita-berita toksik yang sensasional, penuh amarah, dan miskin konteks.

Namun, hampir bersamaan dengan harapan normatif itu, Yuval Noah Harari dalam “Nexus” menghadirkan potret yang jauh lebih muram. Dunia media hari ini, kata Harari, tidak lagi digerakkan oleh pencarian kebenaran, melainkan oleh algoritma yang mengoptimalkan perhatian (attention economy). Secara psikologis, perhatian manusia lebih mudah ditangkap oleh kemarahan, ketakutan, dan kontroversi daripada oleh ketenangan dan kebijaksanaan.

Di sinilah pers berdiri di persimpangan sejarah.

Apa yang disampaikan Komaruddin Hidayat adalah das sollen—apa yang seharusnya. Ia berbicara dari tradisi etika pers: verifikasi, keberimbangan, kepentingan publik, dan tanggung jawab sosial. Dalam kerangka ini, pers adalah institusi kebudayaan dan moral yang ikut membentuk kualitas nalar publik.

Sementara itu, Harari berbicara tentang das sein—apa yang senyatanya terjadi. Ia tidak menghakimi wartawan secara individual, melainkan menunjukkan bahwa seluruh ekosistem informasi telah berubah. Media tidak lagi berdiri di ruang hampa; mereka berada dalam infrastruktur digital yang memberi insentif sistemik pada hal-hal ekstrem. Algoritma tidak bertanya apakah sebuah konten mencerahkan atau menyesatkan; ia hanya bertanya: “Apakah ini membuat orang berhenti menggulir layar?”

Akibatnya, bahkan media arus utama pun kerap tergoda—atau terpaksa—mengemas realitas dalam bingkai konflik dan dramatisasi. Bukan karena mereka kehilangan etika, melainkan karena mereka beroperasi dalam sistem yang “menghukum” kejernihan dan “menghadiahi” kegaduhan.

Pertemuan gagasan Komaruddin dan Harari menyingkap satu hal penting: krisis pers hari ini bukan semata krisis profesionalisme wartawan, melainkan krisis ekologi informasi. Pers diminta menyajikan air bersih, tetapi sumber airnya telah tercemar dan saluran distribusinya dikendalikan oleh mesin yang menyukai racun.

Ketika Prof. Komaruddin Hidayat adalah “das sollen”, Yuval Noah Harari berbicara tentang “das sein” — apa yang senyatanya terjadi. (ist)

Dalam konteks ini, seruan moral saja tidak cukup. Idealisme penyulingan makna akan mudah runtuh jika tidak disertai kesadaran struktural tentang medan tempat pers bekerja. Pers tidak hanya berhadapan dengan tekanan politik dan ekonomi sebagaimana masa lalu, tetapi juga dengan logika algoritmik yang nyaris tak terlihat namun sangat menentukan.

Namun, refleksi Hari Pers tidak boleh berhenti pada keluhan. Justru di tengah kelelahan publik terhadap berita toksik, tersimpan peluang yang jarang disadari. Kejenuhan adalah sinyal bahwa masyarakat mulai merindukan jurnalisme yang memberi makna, bukan sekadar adrenalin.

Di sinilah metafora penyulingan menemukan relevansinya sebagai strategi, bukan sekadar nostalgia moral. Air bersih menjadi bernilai justru ketika air kotor melimpah. Pers yang mampu bertahan, bahkan unggul, adalah pers yang berani mendefinisikan ulang keberhasilannya: dari sekadar viralitas harian menuju kepercayaan jangka panjang.

Hari Pers yang kita peringati kemarin bukan lagi sekadar perayaan kebebasan atau romantisme profesi. Ia adalah momen refleksi tentang keberanian mengambil posisi: apakah pers akan larut sepenuhnya menjadi bagian dari mesin algoritma, atau berjuang menjadi ruang penyulingan makna di tengah banjir informasi?

Komaruddin Hidayat mengingatkan kita pada tujuan luhur, sedangkan Harari mengingatkan kita pada musuh tak kasat mata yang menggerogotinya. Menggabungkan keduanya berarti menyadari bahwa masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh niat baik, tetapi oleh kecerdasan membaca zaman dan keberanian merancang ulang peran. Pers tidak bisa lagi sekadar “melaporkan apa yang terjadi,” melainkan harus membantu publik memahami mengapa sesuatu terjadi dan apa maknanya bagi kehidupan bersama.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin inilah tugas pers yang paling radikal hari ini: berani menjadi tenang, ketika kegaduhan justru terasa paling menguntungkan
Sekali lagi, Selamat Hari Pers. *