Logo
Featured Image
Jabar

Disorot Financial Times, KDM Sebut Warga Jabar Makin Kritis dan Aktif Mengadu

Jurnalis
Wartawan deram
Editor deram 24 September 2026

DARA | Gubernur Jawa Barat KDM merespons pemberitaan Financial Times (FT) yang menyoroti popularitasnya dan menyebutnya sebagai salah satu figur alternatif dalam peta Pilpres 2029.

 

KDM mengaku berterima kasih atas apresiasi yang diberikan kepadanya. Namun, ia mengatakan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam menjalankan pemerintahan di Jawa Barat."Saya mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang mengapresiasi saya. Tetapi saya hari ini pasti banyak kekurangan-kekurangan yang dimiliki," kata KDM saat ditemui, Kamis (24/9/2026).

 

Menurutnya, sorotan tersebut justru harus menjadi dorongan untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Jawa Barat.Ia mengatakan masyarakat Jawa Barat saat ini semakin kritis dan memiliki akses interaksi yang lebih langsung dengan pemerintah melalui media sosial.

 

"Masyarakat Jawa Barat ini sekarang sudah tumbuh menjadi masyarakat yang kritis. Interaksinya langsung dengan kepala daerah," tuturnya.

 

KDM mencontohkan laporan masyarakat melalui media sosial yang dapat langsung ditindaklanjuti pemerintah. Salah satunya warga di Kota Tasikmalaya yang mengeluhkan kebutuhan biaya pengobatan sebesar Rp19 juta untuk menangani penyakit pada mata yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

 

Menurut KDM, laporan tersebut dapat langsung direspons pemerintah sehingga persoalan warga tidak berhenti sebagai keluhan di media sosial."Misalnya hari ini ada warga yang mengadu di Kota Tasik, perlu uang Rp19 juta untuk bayar obat virus mata yang tidak ter-cover BPJS. Saya langsung respons, langsung selesaikan," katanya.

 

Interaksi Langsung dengan Warga

 

KDM mengatakan pola komunikasi melalui media sosial membuat dirinya dapat mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat hampir setiap hari.Ia mengaku rutin memantau perkembangan berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat melalui media sosial untuk kemudian dikoordinasikan dengan perangkat daerah maupun aparat terkait.

 

"Memang pola interaksi langsung pemimpin dengan masyarakat melalui media sosial hari ini di Jawa Barat sudah berjalan. Saya setiap hari melihat apa yang terjadi, perkembangan di lingkungan," ujarnya.

 

Pola tersebut, kata dia, juga membuat informasi mengenai persoalan di lapangan dapat langsung menjadi bahan komunikasi dengan pejabat terkait.KDM mencontohkan ketika bertemu dengan Kapolrestabes Bandung. Ia dapat langsung menanyakan perkembangan kasus yang sebelumnya diketahui melalui informasi masyarakat.

 

"Jadi ketika ketemu Pak Kapoltabes, saya tanyakan, gimana tuh yang di Baleendah?" ucapnya.

 

Ia kemudian mendapat jawaban bahwa persoalan tersebut sudah ditangani dan pihak yang bersangkutan telah ditahan.KDM menegaskan tidak ingin menjadikan sorotan terhadap popularitasnya sebagai fokus utama. Menurut dia, yang lebih penting adalah memastikan pemerintah terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

"Jadi kita memberikan yang terbaik saja deh bagi masyarakat," katanya.

 

Ketika kembali ditanya mengenai pemberitaan FT sebagai bentuk apresiasi terhadap dirinya, KDM mengatakan apresiasi maupun kritik sama-sama diperlukan."Kita mengucapkan terima kasih pada yang mengapresiasi saya. Saya juga, bukan hanya yang mengapresiasi, yang mengkritik saya tiap hari juga saya mengucapkan terima kasih," kata dia.

 

Sorotan Financial Times

 

Sebelumnya, Financial Times dalam laporan yang terbit 21 September 2026 menyoroti meningkatnya popularitas KDM dan aktivitasnya yang sangat intens di media sosial. Media bisnis asal Inggris itu menggambarkan KDM sebagai figur yang membangun kedekatan dengan masyarakat melalui interaksi langsung dan konten mengenai aktivitas sehari-harinya.

 

FT juga mengaitkan popularitas tersebut dengan kemunculan KDM sebagai salah satu figur alternatif dalam peta Pilpres 2029. Laporan berjudul "Is this Indonesia's next president?" itu mengutip sejumlah hasil survei yang menempatkan KDM dalam posisi tinggi dalam simulasi Pilpres 2029.

 

Dalam survei SMRC pada Juli 2026 yang dikutip FT, elektabilitas KDM tercatat 35 persen, sementara Prabowo Subianto 14,5 persen. Dalam simulasi head to head, KDM memperoleh 59 persen dan Prabowo 28,3 persen.

Meski demikian, KDM hingga kini belum menyatakan keinginan untuk maju dalam Pilpres 2029. Dalam merespons laporan tersebut, ia justru menekankan pentingnya memperbaiki kekurangan dan menjaga interaksi langsung dengan masyarakat Jawa Barat.

 

Dapatkan Update Berita Terkini!

Mari bergabung di Saluran WhatsApp kami untuk mendapatkan informasi terbaru dan terpercaya langsung di genggaman Anda.

Gabung Saluran WA

Opini Pembaca