| Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IPB University menghadirkan inovasi baru untuk meningkatkan nilai jual padi di Desa Sumberagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lewat program bertajuk 'Beras+', mereka mengenalkan teknologi pengolahan gabah pascapanen menjadi beras pratanak (parboiled rice).
Pengolahan ini menjadi alternatif diversifikasi produk agar gabah tak sekadar dijual dalam bentuk gabah kering atau beras putih biasa, melainkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
"Beras+ kami hadirkan untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai peluang pengembangan komoditas padi melalui pengolahan pascapanen. Salah satunya dengan mengolah gabah menjadi beras pratanak yang memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri," ujar mahasiswa KKN IPB University Desa Sumberagung, Fathani Nur Ardini, Kamis (13/8/2026).
Keunggulan dan Cara Olah Beras Pratanak
Berbeda dengan beras putih biasa yang langsung digiling dari gabah kering, beras pratanak harus melewati tiga tahapan khusus sebelum masuk mesin penggilingan, yakni perendaman, pengukusan, dan pengeringan.
Proses pengukusan ini mengubah tampilan fisik dan kualitas beras secara signifikan. Warnanya berubah menjadi kuning keemasan atau krem, serta memiliki ketahanan butir yang lebih kuat sehingga tidak mudah patah saat proses penggilingan. Hal ini otomatis meningkatkan rendemen beras utuh yang dihasilkan.
Tak hanya dari segi fisik, beras pratanak juga mengandalkan keunggulan nutrisi. Kandungan gizi pada beras pratanak cenderung lebih terjaga dibandingkan beras putih biasa.
Selain itu, produk ini memiliki indeks glikemik yang lebih rendah sehingga sangat cocok bagi konsumen yang menerapkan pola hidup sehat atau penderita diabetes.
Dari sisi kuliner, beras pratanak menghasilkan nasi dengan tekstur yang tidak lengket, serta memiliki daya simpan dan ketahanan transportasi yang lebih baik.
Dalam kegiatan yang melibatkan Kelompok Tani Sumberagung dan perangkat desa tersebut, mahasiswa juga membagikan panduan pembuatan beras pratanak skala rumah tangga maupun industri kecil menggunakan peralatan sederhana.
Prosesnya dimulai dari merendam gabah bersih, mengukusnya hingga pati melunak, lalu segera mengeringkannya guna mencegah pertumbuhan jamur sebelum akhirnya digiling.
Peluang pasar untuk produk ini terbilang luas, mulai dari konsumen penikmat pangan sehat, industri katering dan restoran yang membutuhkan tekstur nasi khusus, hingga pasar beras bernilai tambah tinggi.
Sebagai pelengkap pengolahan pascapanen, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi budidaya tanaman sehat oleh Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Sumberagung, M. Yusuf Arifin. Sinergi antara edukasi dari hulu hingga hilir ini diharapkan mampu mendorong masyarakat Desa Sumberagung untuk mengoptimalkan potensi komoditas padi lokal secara berkelanjutan.
