| Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Garut mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah kejadian kebakaran sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan data penanganan kebakaran hingga 25 Oktober 2026, tercatat sebanyak 641 kejadian kebakaran, meningkat dibandingkan total kejadian sepanjang tahun 2025 yang mencapai 225 kejadian.
Kepala Disdamkarmat Kabupaten Garut, Usep Basuki Eko, mengatakan dari total 641 kejadian pada 2026 tersebut, sebanyak 238 kejadian merupakan kebakaran non lahan, sementara 403 kejadian lainnya merupakan kebakaran lahan.
Dengan demikian, menurutnya, hingga 25 Oktober 2026 sudah terjadi peningkatan sebanyak 416 kejadian atau sekitar 185 persen dibandingkan keseluruhan kejadian kebakaran sepanjang 2025.
"Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kejadian kebakaran pada 2026 terutama dipengaruhi oleh tingginya kasus kebakaran lahan. Namun, data tersebut belum dapat dibandingkan secara penuh dengan tahun 2025 karena pencatatan tahun 2026 baru berlangsung sampai 25 Oktober," ujarnya, Senin (26/10/2026).
Eko menyebutkan, kondisi yang paling menjadi perhatian adalah peningkatan kasus kebakaran lahan. Menurutnya, pada 2025, Disdamkarmat Garut mencatat sebanyak 21 kejadian kebakaran lahan. Sementara hingga 25 Oktober 2026, jumlahnya telah mencapai 403 kejadian.
"Artinya, terjadi penambahan sebanyak 382 kejadian, atau sekitar 1819 persen dibandingkan jumlah kebakaran lahan sepanjang tahun 2025," ucap Eko.
Eko menuturkan, lonjakan paling tinggi pada 2026 terjadi pada Agustus sebanyak 122 kejadian, kemudian September 107 kejadian dan Juli dengan 81 kejadian.
Data tersebut, ungkapnya, menunjukkan adanya peningkatan risiko kebakaran lahan yang sangat signifikan dan masih berpotensi bertambah hingga akhir tahun.
Total Area yang Terbakar Mencapai 173,7 Hektare
Disampaikan Eko, total area yang terbakar pada tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan yaitu sekitar 173,7 Ha.
Ia memaparkan, pada Januari hingga Juni, luas area terbakar masih relatif rendah, Luas area terbakar tertinggi, menurutnya, terjadi pada bulan September sebesar 50,68 hektare, diikuti Oktober sebesar 50,65 hektare, Agustus sebesar 38,69 hektare dan Juli sebesar 32,21 hektare.
"Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh terjadinya kebakaran lahan yang cukup signifikan pada periode Juli - Oktober, sehingga menyebabkan luas area terdampak kebakaran meningkat secara tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya," katanya.
Sementara itu, lanjut Eko, untuk kebakaran nonlahan, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 204 kejadian. Sedangkan pada 2026 hingga 25 Oktober tercatat telah melebihi total kejadian tahun lalu yaitu 238 kejadian.
Ia mengatakan, kejadian kebakaran nonlahan tertinggi pada 2026 terjadi pada Juli sebanyak 35 kejadian, disusul Agustus 29 kejadian dan Februari 27 kejadian.
Jumlah kejadian tersebut telah melebihi total kejadian nonlahan sepanjang 2025. Hingga 25 Oktober 2026, tercatat sebanyak 238 kejadian, dan telah meningkat 17% atau 34 kejadian dari total kejadian tahun sebelumnya.
"Dengan masih tersisanya waktu hingga akhir tahun, jumlah kebakaran nonlahan pada 2026 masih berpotensi meningkat," ucapnya.
Data Disdamkarmat Kabupaten Garut ini menjadi gambaran penting mengenai meningkatnya ancaman kebakaran di wilayah Garut. Terlebih, lonjakan kebakaran lahan yang mencapai lebih dari 18 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Eko menambahkan, Disdamkarmat Kabupaten Garut terus meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya dalam menghadapi potensi kebakaran lahan yang meningkat pada periode pertengahan tahun.
"Sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kebakaran," katanya.
