DARA - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendukung Kabupaten Pangandaran yang akan menjadikan Pantai Pangandaran sebagai destinasi kelas dunia. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan menjelaskan langkah awal yang dilakukan pihaknya adalah mencermati dokumen RPJMD Kabupaten Pangandaran 2025–2030, yang secara eksplisit menempatkan sektor pariwisata sebagai visi utama pembangunan daerah.
“Artinya, Pangandaran memang menjadikan pariwisata sebagai unggulan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” ujarnya Iendra, Jumat (10/4/2026).
Disparbud Jabar telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran sebagai leading sector pembangunan pariwisata. Ia menekankan pentingnya menerjemahkan visi “destinasi kelas dunia” ke dalam konsep yang lebih konkret dan terukur.
“Harus jelas definisinya, mendunia itu seperti apa, indikator keberhasilannya apa. Nanti itu akan ditanyakan dalam evaluasi kinerja,” katanya.
Menurutnya, indikator sederhana destinasi kelas dunia antara lain dikenal secara internasional dan mampu menarik wisatawan mancanegara dalam jumlah signifikan.
Ia mengakui bahwa dokumen perencanaan seperti RPJMD masih bersifat normatif. Oleh karena itu, dibutuhkan turunan teknis berupa grand design yang memuat tahapan program secara sistematis.
“Harus diterjemahkan ke langkah konkret: program apa saja, anggaran berapa, siapa yang mengerjakan, dan target waktunya,” ujarnya.
Menurut Iendra, perencanaan yang matang akan memudahkan pelaksanaan di lapangan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat.
“Kalau sudah terstruktur dan disepakati bersama, masyarakat juga akan ikut mendukung. Bukan dengan cara-cara yang tiba-tiba atau tidak terarah,” katanya.
Saat ini, penyusunan rencana teknis tersebut tengah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Pangandaran dan terus dipantau oleh Pemprov Jabar.
Ia menambahkan, Pangandaran menjadi salah satu prioritas pengembangan wisata bahari di Jawa Barat, bersama wilayah selatan lainnya seperti Pelabuhan Ratu dan Garut.
“Pantai terbaik kita ada di wilayah selatan, dan kunjungannya sudah tinggi. Tinggal bagaimana kualitasnya ditingkatkan agar bisa naik kelas,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, ia menilai tidak semua harus dibangun dari awal. Fokus utama saat ini adalah memaksimalkan dan merawat fasilitas yang sudah ada.
“Yang ada dimanfaatkan dulu, diperbaiki, dipelihara. Baru kemudian dikembangkan bertahap,” katanya.
Ia juga menyebut adanya usulan pembangunan baru seperti menara dan infrastruktur lainnya, namun hal tersebut masih dikaji dari sisi kebutuhan dan manfaat.
Menurutnya, untuk menjadi destinasi berkelas dunia, Pangandaran harus memenuhi prinsip dasar pariwisata, salah satunya konsep 4A yaitu administrasi, atraksi, amenity, dan akses.
Ia menekankan pentingnya penataan kawasan wisata secara menyeluruh, mencontoh pengelolaan destinasi seperti Bali.
“Penataan harus jelas, mulai dari zonasi, lokasi usaha, hingga pengaturan parkir. Tidak boleh semrawut,” ujarnya.
Salah satu opsi yang didorong adalah penyediaan kantong parkir terpadu di luar kawasan inti wisata, yang dilanjutkan dengan sistem transportasi shuttle bagi wisatawan.
Iendra pun menegaskan, dengan kunjungan wisatawan yang sudah tinggi, tantangan Pangandaran saat ini bukan lagi pada kuantitas, melainkan kualitas.
“Pengunjung sudah banyak, tapi kualitasnya harus ditingkatkan. Itu kunci untuk naik ke level destinasi kelas dunia,” katanya.
